Ada Yang Berusia 85 Tahun, 883 CJH Siap Berangkat

oleh -75 views
MANASIK TERAKHIR: Para CJH asal Tuban saat Menjalani Manasik Terakhir sebelum Berangkat

Wartawan: Eka Febriyani

Tabloidnusa.com – Calon jamaah haji (CJH) asal Kabupaten Tuba nada yang berusia 85 tahun. Dia adalah Siti Saudah Kasmidin dari Desa Kowang  Kecamatan Semanding.

Siti Saudah merupakan satu dari 669 CJH yang berisiko tinggi  karena faktor usia,fisik dan lainntya.

CJH perempuan ini menjadi CJH tertua, sedangkan CJH termuda usia 18 tahun Salasa binti Muria dari Desa Kebonagung, Kecamatan Plumpang.

Dari Bumi Wali, sebanyak 883 CJH yang siap berangkat. Senin (22/7/2019) mereka menjalani manasik haji masal di lapangan Semen Gresik.

Manasik yang kedua itu diberikan agar para jamaah tidak kebingungan saat melaksanakan ibadah haji.

‘’Semua jumlah CJH 885 orang, tapi 2 orang menunda keberangkatan karena kecelakaan. Jadi tinggal 883,’’ ujar Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Tuban, Drs. Sahid MM.

Ke 883 CJH itu akan diberangkatkan  masuk dalam gelombang 2 kelompok terbang (kloter) 77 dan 78. Masing-masing berjumlah 445 dan 438 jamaah.

‘’Calon jamaah berangkat pada 1  Agustus 2019. Titik kumpul di Pendopo Kridho Manunggal  Kabupaten Tuban,’’ tambahnya.

Pada CJH berkumpul  padapukul 03.30 WIB. Diharapkan pukul 09.00 WIB sudah tiba di Asrama Haji Surabaya.

‘’Untuk pengantar hanya satu  mobil bertanda khusus yang bisa masuk ke area parkir dan berhenti mengantar sampai di pintu masuk pendopo,’’ katanya.

Dia  mengucapkan selamat kepada seluruh CJH Tuban yang akan diberangkatkan pada musim haji tahun ini. Sebab, dari puluhan ribu yang mendaftar, tidak semua bisa segera diberangkatkan.

‘’Manasik ini merupakan kegiatan terakhir dari semua kegiatan manasik di Kabupaten Tuban. Setelah diberikan praktek manasik secara langsung,’’ tandasnya.

Sementara Ir. Joko Sulistiyanto, Direktur Operasional Semen Indonesia mengatakan apa yang dilakukan perusahaannya dalam rangka untuk berkontribusi pada Kabupaten Tuban.

‘Semoga seluruh CJH sehat selama menjalankan ibadah haji dan pulang dengan predikat mabrur. Semoga ke depan kami bisa berkontribusi lebih baik lagi,’’ harapnya.

Sementara, Bupati Tuban Fathul Huda berpesan pada seluruh CJH bahwa haji adalah ibadah fisik. Ibadah yang mengeluarkan harta dan ibadah hati yang menyatu dan melebur menjadi satu.

“Menjadi mabrur itu susah, tapi menjaga kemabruran jauh lebih susah,’’ katanya.

Haji yang mabrur, lanjut bupati, tandanya ada efeknya. Yakni menjadi suka member atau dermawan dan beribadah dengan benar.

‘’Filosofi haji sendiri adalah memakai kain ihram. Kain putih tidak berjahit. Ini menunjukkan ketika kita mati tidak membawa apa-apa, kecuali selembar kain putih,’’ tegasnya. (yon/lai)