Begini Harapan Kepala SKK Migas pada Santri

oleh -
AJAK SANTRI : Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar mengjak para santri untuk pintar

Wartawan: Nur Salam

Tabloidnusa.com – Bertemu para santri, membuat Kepala Satuan Kerja Khusus Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi ( SKK Migas) Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) Ali Masyhar bersemangat.

Karena itu, kegiatan Sekolah Jurnalistik di SMK Terpadu Tarbiyatut Thullab, Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko, Kabupaten Tubanyang digelar PT Pertamina Asset 4 Sukowati Field dan Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban dihadiri sendiri.

‘’Saya semangat sekali. Karena itu, saya langsung terbang dari Jakarta tadi malam. Untuk hadir di sini saya harus mengcansel kegiatan lain yang harus saya hadiri,’’ ujar Ali Masyhar di hadapan para santri yang sekaligus siswa-siswi di SMK tersebut, Senin (15/10/2018).

Pria yang pernah nyantri di pesanteran Futuhiyah, Mranggen, Magelang, Jawa Tengah selama 6 tahun ini mengaku, menjadi santri tak menghalangi seseorang untuk berkarya dan menjadi apa saja. Contohnya dia sendiri yang berawal dari santri namun bisa mencapai posisi di lembaga yang mengurusi soal migas.

‘’Semua itu harus disertai dengan ilmu dan keahlian. Jadi, belajarlah yang sungguh-sungguh agar kalian berilmu dan punya keahlian,’’ pesan dia.

Soal migas, pria yang tingga di Jakarta ini mengatakan, semua sendi kehidupan masyarakat tak pernah lepas darinya. Karena, semua yang dilakukan tak lepas dari energi, dan hampir semua energi yang dibutuhkan, disediakan atau ditopang oleh migas. Karena itu, migas harus tetap ada, dan harus terus diproduksi.

Namun, produksi migas nasional, saat ini sudah mengkhawatirkan. Sebab, antara kebutuhan yang produksi sangat tidak imbang. Kebutuhan atau konsumsi jauh lebih besar dibanding produksinya. Sehingga, Indonesia harus impor, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dari luar negeri.

‘’Karena Indonesia saat ini sudah bukan negara penghasil minyak lagi. Kita kekurangan, sehingga harus impor,’’ ungkap dia.

Usaha menemukan cadangan-cadangan migas baru terus dilakukan. Kegiatan eksplorasi terus diupayakan agar cadangan migas terus ada. Hanya, tidak semua eksplorasi itu berhasil. Sebab, kadangkala meski sudah mengeluarkan biaya sampai ratusan miliar tidak menemukan migas yang diharapkan.

‘’Jadi, semua serba tidak pasti. Kadang ketemu kadang tidak. Resikonya tinggi. Itu kenapa tak banyak pengusaha nasional yang berani mengambil resiko. Bahkan pemerintah pun tak berani mengambil resiko. Sehingga, diundang perusahaan asing untuk eksplorasi,’’ tambahnya.

Selain berbiaya dan beresiko tinggi, eksplorasi migas juga butuh teknologi tinggi. Perusahaan asing yang banyak memiliki teknologi tersebut. Karena itu, dia berharap para siswa belajar tekun agar menjadi manusia-manusia yang pintar, yang ke depan bisa menguasai teknologi tersebut untuk membantu menemukan cadangan-cadangan migas baru.

‘’Bantulah negeri ini, karena saat ini sedang sangat membutuhkan cadangan migas yang banyak untuk memenuhi kebutuhan. Para generasi muda ini nanti yang diharapkan bisa membantu,’’ katanya.

Meski sudah punya teknologi tinggi, namun cadangan migas yang dicari berada di ribuan meter di bawah bumi, bahkan terkadang berada di tengah laut. Sehingga, manusia tidak bis memastikan apakah ad atau tidak cadangan migas yang dicari itu. Karena itu, peran Allah atau Tuhan yang paling utama.

‘’Jadi, doa dan kedekatan dengan Allah itu penting. Kalau Allah tidak menghendaki, tidak memberi berkah jangan harap bisa ketemu migasnya. Karena itu, bersyukurlah Indonesia masih diberi berkah dengan masih adanya cadangan migas,’’ tandasnya.(lam/wan)