Cegah Kekerasan Anak dengan Sekolah Batik

oleh -236 views
CERIA : Anak-Anak Peserta Kelas Batik Terlihat Ceria
CERIA : Anak-Anak Peserta Kelas Batik Terlihat Ceria

TUBAN – Banyaknya kasus kekerasan yang dialami anak-anak di Kabupaten Tuban, baik sebagai korban atau pelaku menurut Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) tidak terlepas dari kondisi sosial, pengasuhan dalam rumah tangga dan proses pendidikan di sekolah.

Lembaga ini mencatat pada 2017 lalu, terdapat 85 kasus kekerasan pada anak.  Fak itu adalah hasil dari FGD dengan Forum Anak Ronggolawe Tuban. Kebanyakan anak-anak merasa kelelahan mengejar pelajarannya. Sebab, usai pulang sekolah sekitar jam 14.30 WIB, mereka langsung geser ke tempat les baik, les umum atau privat sampai ada yang jam 17.00 WIB  baru selesai atau baru sampai rumah.

Hal inilah yang menyebabkan anak-anak tidak memiliki ruang bermain, berkreasi dan tumbuh kembang secara optimal. Sedangkan, hal tersebut sudah diatur dalam  konvensi hak anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1996 dan disahkannya Undang-Undang No 34 Tahun 2014 atas perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 4

“Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi,’’ ujar Nunuk Fauziyah Direktur Eksekutif KPR.

Tidak dimilikinya ruang kreasi dan tempat bermain yang ramah anak, kata dia, memungkinkan anak-anak menjadi stres dan psikisnya mudah rapuh sehingga gampang dipengaruhi oleh orang lain yang berniat jahat. Gadget adalah pilihan terakhir mereka bermain.

Sedang gadget jika dilihat dari sisi negatifnya memiliki ancaman bagi anak-anak. Karena, 50 persen anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual berawal dari melihat video porno dari gadgetnya. Selain itu, dampak dari gadget mengakibatkan  rasa solidaritas dan kepekaan untuk membangun hubungan yang humanis sangat rendah, introvet dan anak-anak kehilangan pengetahuan di luar mata pelajaran di sekolah.

Untuk itulah KPR membuka Kelas Batik Anak dengan tema “Menumbuhkan Kreatifitas Dengan Belajar Batik dan Pencegahan Dini Kekerasan Pada Anak”.  Kelas ini mulai dibuka Minggu 4 Februari ini, di kantor KPR. Kelas batik klaster pertama dilaksanakan setiap hari Minggu selama 3 bulan dan setiap satu kali pertemuan selama 2 jam. Kelas batik ini diikuti sebanyak 20 anak-anak usia SD, SMP, SMA dan tidak tidak dipungut biaya alias gratis.

‘’Semoga dengan adanya kelas batik ini, dapat memberikan manfaat untuk tumbuh kembang anak secara optimal dan bisa mengasah kreatifitas anak sehingga anak- anak menjadi cerdas, percaya diri, mandiri dan bebas dari kekerasan,’’ katanya.(rizqi)