Didatangi Jokowi, Pertamina Punya Peluang Bisnis Petrokimia Rp 50 Triliun Pertahun

oleh -107 views
PENGIN SEMUA BERES : Presiden Jokowi saat Memberi Keterangan pada Wartawan. Presiden Ingin Semua Persoalan di TPPI Beres

Wartawan : Eka Febriyani

Tabloidnusa.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang ke lokasi kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (21/12/2019). Presiden meminta persoalan yang ada di TPPI diselesaikan segera.

‘’Karena ini akan menjadi kilang yang terbesar, sehingg akan sangat membantu,’’ ujar Presiden Jokowi pada para wartawan.

Menurut presiden pengembangan harus terus dilakukan. Pembelian saham perusahaan yang saat ini masih tersisa sekitar 2 persen juga harus segera diselesaikan. Sebab, sebagian kecil saham itu masih dikuasi perusahaan induk.

‘’Januari saya minta sudah selesai. Tadi, minta 3 bulan, tapi tidak, dua bulan sudah harus selesai,’’ tandasnya.

Sementara, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Direktur Utama Tuban Petro yang mendampingi meninjau langsung kawasan TPPI, mengatakan pihaknya mengembangkan area TPPI menjadi industri petrokimia nasional di Tuban.

Nicke Widyawati menyatakan, peluang pasar bisnis petrokimia di Indonesia sekitar Rp 40 –  Rp 50 triliun per tahun. Selain itu, bisnis petrokimia mempunyai margin lebih tinggi dibanding BBM.

“Pembangunan komplek industri Petrokimia akan lebih menjamin keberlanjutan bisnis perseroan, karena sesuai dengan trend bisnis masa depan,” ujar Nicke, di lokasi kilang TPPI.

Pembangunan industri Petrokimia, lanjut Nicke, juga  akan lebih efisien karena  diintegrasikan dengan kilang. Sehingga produk samping petrokimia dapat dimanfaatkan kembali oleh kilang. Baik untuk bahan bakar kilang itu sendiri maupun dapat menjadi produk BBM.

“Infrastruktur penunjang dan utilitas dapat juga dimanfaatkan secara bersama-sama dengan menurunkan biaya energi hingga 10 persen. Juga biaya personel turun 10 persen sehingga biaya operasional turun sampai 15 persen,’’ Nicke.

KILANG BESAR : TPPI Akan Dikembangkan Menjadi Kilang yang Besar dan Terintegrasi

Langkah mengintegrasikan kilang TPPI untuk pengembangan industri petrokomia dilakukan Pertamina dengan melakukan aksi korporasi pembelian saham seri B TubanPetro. Yang merupakan induk usaha TPPI, senilai Rp 3,1 triliun. Sehingga Pertamina saat ini menguasai saham mayoritas 51 persen.

“Aksi korporasi ini dimaksudkan untuk mengembangkan industri petrokimia nasional yang nantinya akan memberikan dampak bagi pengembangan industri turunannya di tanah air,” tambah dia.

Nicke menjelaskan, restrukturisasi TubanPetro juga merupakan bagian dari kilang Pertamina yang mengutamakan aspek fleksibilitas (flexibility). Di mana mode kilang bisa beralih baik mode petrokimia ataupun mogas. Hal ini membuat produksi kilang dapat menyesuaikan dengan permintaan pada saat beroperasi.

Selain itu, dengan pasokan bahan baku yang terintegrasi antara satu kilang dengan kilang lainnya, diharapkan juga bisa meningkatkan efisiensi baik sisi pengeluaran operasional maupun pengeluaran modal.

Sehingga meraih keuntungan (profitability) yang maksimal. Dengan tingkat keuntungan yang maksimal, maka proyek-proyek kilang Pertamina mampu menjadi bisnis yang berkelanjutan (sustainability) ke depannya.

“Jadi jelas bahwa proyek kilang kami  yang sedang berjalan akan menjadi bisnis yang berkelanjutan karena dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dan didukung integrasi baik sesama kilang maupun infrastruktur Pertamina lainnya,” kata Nicke.

Pertamina sendiri akan mengembangkan pembangunan pabrik baru serta melanjutkan pembangunan komplek olefin dan polyolefin di kawasan kilang TPPI di Tuban. Dengan pembangunan tersebut, maka TPPI akan menjadi komplek petrokimia yang terintegrasi menghasilkan produk-produk aromatik dan olefin.

Pada saat yang sama, melalui proyek RDMP dan GRR, Pertamina juga sedang membangun kilang Tuban dengan investasi 16 miliar dollar AS. Nantinya akan memiliki fasilitas produksi petrokimia dengan produk polypropylene sebanyak 1.200 ktpa, paraxylene 1.300 ktpa dan polyethylene 750 ktpa.

“Pembangunan industri petrokimia nasional akan turut memperkuat neraca perdagangan, menghemat devisa dan mengurangi impor bahan baku dan produk petrokimia,” pungkas Nicke.(yon)