Gelar Demo, Wartawan Tuban Desak Presiden Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis

oleh -
Aksi solidaritas wartawan di Tuban desak Presiden Jokowi cabut remisi pembunuh jurnalis di Bali

Wartawan: Salam

Tuban,Tabloidnusa.com-Puluhan wartawan yang mengatas namakan Forum Wartawan Tuban (FWT) menggelar aksi solidaritas mendesak Presiden Jokowi untuk mencabut remisi otak pembunuhan wartawan di Bali, Senin (28/1/2019).

Acara dimulai dengan melakukan longmarch dari Balai Wartawan yang berada di jalan Pramuka hingga menuju bundaran patung Letda Soecipto. Sambil membawa beberapa poster bertuliskan stop kekerasan jurnalis, pak presiden cabut remisi pembunuh jurnalis, lindungi jurnalis, stop kekerasan jurnalis dan beberapa tulisan lainnya.

Di sepanjang jalan para kuli tinta silih berganti melakukan orasi tentang penolakan terhadap kebijakan Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 29 Tahun 2018. Pada kepres itu berisi pemberian remisi berupa perubahan dari pidana seumur hidup menjadi pidana penjara sementara kepada I Nyoman Susrama otak pembunuhan terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

“Hal itu telah mecederai sendi-sendi pers sebagai pilar demokrasi. Cabut remisi, karena tidak selayaknya otak dari pembunuh wartawan mendapatkan ampunan,” kata koordinator aksi Husni Mubarok bersama para jurnalis lainnya.

Ia menjelaskan, pers tidak hanya sekadar mengabarkan berita maupun informasi. Tapi juga sebagai pilar keempat demokrasi di Indonesia. Pers memiliki tanggung jawab dalam menegakkan konstitusi. Tentu dengan kebijakan pemberian remisi, forum FWT mendesak Presiden Joko Widodo untuk mencabut remisi yang telah diberikan kepada pembunuh jurnalis.

“Kebijakan Presiden Joko Widodo juga tidak sejalan dengan semangat keadilan yang telah ditunjukan lembaga peradilan, yang sebelumnya sudah menolak upaya banding pelaku,” tegas Barok panggilan akrab korlap aksi.

Seperti diketahui, peristiwa terbunuhnya wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa terjadi pada tahun 2009. Kala itu berawal dari penulisan terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Susrama (otak pembunuhan) yang diberitakan Radar Bali itu, ternyata sangat yakin penulis berita itu adalah Bagus Narendra Prabangsa. Sehingga ia dihabisi, dibunuh dan dibuang ke laut.

Mayat Prabangsa ditemukan mengambang di Pantai Bias Tugel, Karangasem, sekitar pukul 09.40 WITA, Senin 16 Februari 2009. Penemu jenazah korban adalah kapten kapal motor Perdana Nusantara. Saat ditemukan korban mengenakan celana panjang cokelat tanpa baju. Pada celana korban ditemukan dompet berisi identitas, yaitu SIM A, C, dan KTP. Sedangkan, korban ditemukan dalam komdisi mengenaskan.

Polisi yang melakukan pelacakan, akhirnya menyeret otak pembunuhnya yakni Susrama. Pada persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Susrama dituntut hukuman mati karena terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Tetapi seperti tertuang dalam Pasal 340 KUHP, pelaku hanya divonis hukuman penjara seumur hidup.(Lam/Wn)

Link Banner