Habib yang Lebih Suka Disebut Mbah Guru

oleh -165 views



PENULIS: Suwandi (Tulisan Oktober 2012)

Mungkin sebagian orang Tuban, belum begitu familier dengan Mbah Guru alias Mbah Husein. Namun, beliau diyakini sebagai salah satu wali Allah yang menyebarkan ajaran agama Islam di Tuban dan Rembang. Makam Mbah Guru berada di Desa Sukolilo, Bancar. Nama asli sosok yang sangat berjasa dalam menyiarkan agama Islam ini adalah Syaid Husein Bin Ja’far al Wahad.
 “Mbah Guru merupakan sosok yang disegani oleh warga di kala itu, karena dengan sifatnya yang baik pada masyarakat,”kata Syaifudin, cucu keponakan dari Mbah Siti Aminah istri Mbah Guru.
Menurut cerita Syaifudin, Mbah Guru sebenarnya merupakan syaid atau habaib (masih keturunan Nabi Muhammad SAW). Tetapi, Mbah Guru sendiri tidak mau kalau dipanggil ‘’Syaid’’, ‘’Yek’’ maupun ‘’Habaib’’. Mbah Guru lebih suka  kalau dipanggil Mbah Guru saja. “Sosok Mbah Guru merupakan sebagai panutan orang banyak di kala itu,”tandas Syaifudin
Diceritakan, semasa menyiarkan agama Islam, Mbah Guru selalu berpindah-pindah tempat. Tujuannya adalah untuk mencari tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Islam. Selain itu juga mengajak masyarakat Islam untuk senang bekerja dan menciptakan lapangan kerja. Mbah guru sendiri merupakan keturunan dari Yaman, beliau adalah seorang saudagar yang selalu berpindah-pindah tempat.
Tempat yang pernah disinggahi yaitu Tuban, Lasem, Rembang dan akhirnya Mbah Guru menetap di Bancar. Di sini, Mbah Guru menikah dengan Mbah Putri Siti Aminah, putri dari Mbah Ibrohim, salah satu kiai atau sesepuh yang ada di daerah Bancar. Namun ada versi lain kalau Mbah Guru-lah yang babat tanah Bancar sebelum zaman penjajahan. ’’Soal tahun kewafatannya, belum ada yang tahu kejelasannya,”tandas Syaifudin.
Tempat pemakaman Mbah Guru berada di pinggir perkampungan warga. Dulu sebelum dihuni oleh warga, tempat itu merupakan makam Mbah Guru dan keluarga, hingga akhirnya dibangun sebuah masjid besar yang berdampingan dengan makam.

Biasanya pada Kamis malam Jumat, banyak peziarah yang datang ke makam Mbah Guru. Para peziarah tidak hanya dari warga sekitar tetapi juga banyak yang dari luar kota, lebih khususnya dari daerah Jawa Tengah. Secara rutin, warga sekitar mengadakan haul Mbah Guru bertepat pada 2 malam 3 Muharrom. (wandi)