JEDA NUsa EDISI 03 – Pesantren dan Kewirausahaan

oleh


Liburan sekolah lalu, saya mengajak keluarga ke Bandung. Selama di kota kembang itu, kami menginap di penginapan (Cottage) Pondok Pesantren Darul Tauhid asuhan Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar). Selain alasan ekonomis (karena sewanya relatif murah), saya juga ingin mengetahui lebih dekat tentang Aa Gym dan pesantrennya, khususnya setelah dia dilanda ‘’prahara kawin lagi’’ yang katanya sangat berpengaruh pada jamaah (khususnya ibu-ibu).
Dari penuturan sejumlah pedagang di komplek pesantren di Jalan Geger Kalong, ‘’prahara kawin lagi’’ Aa Gym memang sangat berpengaruh kepada kehadiran jamaah pengajian rutin yang digelar. ‘’Sekarang mah tidak seramai dulu,’’ kata seorang penjual obat Herbal yang saya tanya. Namun, di tengah ‘’musibah’’ itu, saya tetap menyaksikan Darul Tauhid tetap bergerak. Darul Tauhid tetap dinamis. Kesimpulan yang cepat saya ambil, ‘’Sosok Aa Gym memang penting untuk Darul Tauhid, tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu menejemen yang ada di balik Darul Tauhid.’’
Sepertinya, menejemen yang menangani Ponpes tersebut masih solid. Mereka sudah menjadi mesin yang bisa bergerak secara mandiri, kendati tokoh sentralnya (Aa Gym) sedang dilanda persoalan. Pengelola masjid Darul Tauhid masih menyebar brosur yang menawarkan wisata Sepeda Wisata Rohani, yang mengemas dakwah dengan olah raga dan rekreasi. Minimarket masih buka dan melayani pengunjung yang terus berdatangan. KBIH Darul Tauhid juga masih melakukan bimbingan terhadap jamaah umrah yang segera akan ke tanah suci. Demikian juga dengan radio, televisi, balai pengobatan, percetakan, pabrik pembuatan air mineral, pengelola parkir, lembaga pengelola dana infaq, sadaqah, dll., semua masih terlihat bergerak dinamis.
Dalam perspektif pesantren salaf (NU), Ponpes Darul Tauhid dan Aa Gym, mungkin tidak termasuk dalam radar alias di luar service area. Begitu juga dengan kekiaian Aa Gym. Namun yang layak diketahui, Aa Gym, secara kultural lebih dekat dengan kultur nahdliyin. Istri pertama dia, Teh Nini (yang sempat cerai gara-gara dimadu dan kini dinikahi lagi) adalah salah satu anak kiai pengasuh pesantren NU di Cianjur. Sebelum dikenal sebagai dai kondang, dia juga banyak menimba ilmu dari kiai-kiai yang berkultur NU.
Tapi, kita tidak perlu memperdebatkan itu. Yang perlu digarisbawahi adalah keberhasilan dia dalam membentuk sebuah komunitas muslim dengan etos kerja yang sangat profesional. Mereka tidak hanya menjadi komunitas dakwah yang hanya menawarkan ancaman neraka bagi umat yang durhaka dan surga bagi umat yang taat menjalankan perintah Allah SWT. Namun, mereka dengan menejemen qolbu yang mereka dirikan telah menjelma menjadi sebuah kekuatan ekonomi, kekuatan budaya dan kekuatan sosial yang sangat hebat.
Bila dibandingkan dengan kita (NU secara kelembagaan) modal yang dimiliki Aa Gym tentu tidak ada apa-apanya. NU dengan kiai dan pesantrennya yang sangat banyak adalah modal yang sangat besar, baik dari sisi ekonomi, maupun sosial budaya. Namun, karena semua itu tidak tergali dengan baik, semua potensi itu seringkali menguap begitu saja. Memang, kalau bicara soal lembaga, kita semua punya. Maarif menangani pendidikan, dan Lazisnu mengelola zakat, infaq dan sedekah. Ada juga lembaga yang menangani perekomian, penerbitan, dakwah dan yang terbaru adalah lembaga yang menangani serangan bangkitnya neo wahabi yang disebut Aswaja Center. Namun sayang, biasanya rata-rata keberadaan mereka la yahya wala yamut, tidak hidup tidak mati, alias hidup segan, mati tak mau.
Mengapa begitu? Entahlah…! Saya yang mencoba mencari jawaban sejak beberapa tahun lalu belum juga menemukan jawaban yang pas. Ada memang sejumlah hepotesa (jawaban sementara) yang bisa diajukan, semisal, kesukaan kita berkonflik (kegagalan kita mengelola konflik), kebiasaan kita yang tidak disiplin, kebiasaan kita yang nyantai (kurang agresif), pemahaman yang kurang pas tentang zuhud dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Akan tetapi, saya masih merasa belum menemukan jawaban yang pas. Saya masih melihat persoalannya begitu kompleks, bagai benang kusut yang sangat sulit diurai.
Di tengah kebingunang dan kesulitan menyimpulkan itu, saya hanya menemukan fakta, ketika menggagas dan menggerakkan sebuah ide, saya masih saja kesulitan menemukan patner. Teman yang mau diajak kerja keras, taman yang mau bersusah payah dahulu sebelum menimkati hasil dan teman yang secara konsisten mau berkarya mengabaikan gebyar popularitas di hadapan umat.
Dari sini, saya akhirnya hanya bisa membayangkan, betapa hebatnya bila pesantren-pesantren (NU) bisa seperti Darul Tauhid atau lembaga lain yang bisa mengelola potensi umat dengan baik. Bila itu terjadi, tentu akan semakin sedikit kita mendengar keluhan bahwa madrasah, pesantren dan kegiatan lain yang digagas warga NU kekurangan dana. Tidak perlu lagi romo-romo kiai yang sangat kita hormati, menyebar proposal ke mana-mana demi mencari dana untuk mengembangkan pesantrenya. Tidak perlu lagi seorang kiai duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa kasus korupsi gara-gara menerima bantuan yang ternyata berasal dari uang hasil korupsi.
Kendati kini masih bermimpi, saya yakin bahwa suatu ketika hal itu bisa menjadi kenyataan. Saya yakin, warga NU hebat, kiai-kiai NU luar biasa. KH Abdul Ghafur, dengan pesantren Sunan Drajatnya telah membuktikan kehebatan itu. KH Sahal Mahfudh dengan BPR Artha Huda Abadi-ya juga telah membuktikan. Begitu juga tokoh NU di Tuban ini, KH Fathul Huda yang kini jadi orang nomor satu di bumi para wali ini juga terbukti bisa.  
Jadi, yakinlah kita bisa. Ayo dimulai, tunggu apa lagi…!
*)  Akhmad Zaini, pemimpin redaksi NUsa