JEDA NUsa EDISI 04 – Kelas Menengah NU

oleh


Dalam buku, Mengapa Memilih NU?, KH A. Wahid Hasyim mengungkapkan soal minimnya akademisi (kaum terpelajar) di lingkungan NU. ‘’Mencari akademisi di dalam NU adalah ibaratnya seperti mencari orang berjualan es pada waktu jam satu malam,’’ ungkap ayah kandung Gus Dur ini. Pernyataan itu beliau sampaikan di awal-awal negeri ini membangun, setelah memperoleh kemerdekaan, tepatnya 1953.
Jadi, itu dulu. 59 tahun lalu! Sekarang mah…,jaman telah berubah. Mencari kaum terpelajar di lingkungan NU sangat mudah, sama mudahnya dengan mencari penjual es saat ini pada pukul satu malam. Banyak kiai pengasuh pesantren yang bergelar sarjana, master, doktor, bahkan profesor.
Ketika masih nguri-nguri Komunitas Tabayyun bersama Prof Dr Nursyam (kini Dirjen Perguruan Tinggi Kakandepag Pusat) di Surabaya, saya menemukan fakta yang sangat mengagumkan. Ketika kita ‘’iseng-iseng’’ mengumpulkan para akademisi yang berlatar belakang NU di sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, terkumpul sekitar 60-an doktor dan profesor.
Itu baru Surabaya. Bagaimana bila seluruh Indonesia? Tentu jumlahnya sangat besar. Itu realitas sosial! NU bukan lagi kaum tradisional. Bila dulu ada yang mengkatagorikan bahwa ‘’ormas tetangga’’ adalah organisasi Islam modern dan NU adalah organisasi Islam tradisional, rasanya kini tidak relevan lagi. Itu kesimpulan jadul (jaman dulu)! Kesimpulan yang sudah harusnya ditinjau ulang.
Lalu, apa kira-kira yang juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan tingkat pendidikan warga NU tersebut? Tentu banyak. Perubahan budaya, ekonomi, sosial yang sangat terkait dengan pola hidup, gaya hidup dan orientasi hidup. Dalam strata sosial, mereka yang bergelar sarjana, master, doktor dan profesor adalah kalangan kelas menengah. Orientasi hidup, gaya hidup dan kebutuhan hidup kelas menengah berbeda dengan kelas bawah.
Jadi yang patut digarisbawahi saat ini, entah disadari atau tidak, entah diinginkan atau tidak, sekarang telah terjadi perubahan budaya di sebagian warga NU. Perubahan itu menyangkut segala aspek kehidupan. Dalam hal pendidikan misalnya, mereka menginginkan agar anak-anak mereka bisa sekolah di lembaga-lembaga pendidikan yang menjanjikan kualitas baik. Biaya mahal, bagi kelompok ini tidak ada masalah. Mereka mampu membayar, yang penting anak mereka menikmati proses belajar mengajar yang berkualitas.
Sekarang, sekolah-sekolah Islam terpadu (full day school) yang membutuhkan ongkos mahal,  dibanjiri banyak peminat, termasuk dari anak-anak kelas menengah NU. Sayang sekolah-sekolah macam itu yang dikelola NU masih sangat minim. Jauh tertinggal bila dibandingkan dengan yang dimiliki ormas lain. Sementara di pihak lain, pesantren salaf yang banyak dimiliki NU, kini minim peminat. Bila toh masih ada, biasanya hanya dari anak-anak orang NU pedesaan atau kalangan bawah.
Dalam hal pesantren salaf ini, menurut saya, kita sering tidak jujur. Kita –termasuk mereka yang menjadi petinggi NU—sering mengatakan bahwa lembaga pendidikan ini merupakan lembaga pendidikan yang baik. Puja-puji pun selalu diberikan. Namun, ketika menyekolahkan anak, teramat sedikit yang mengirim ke pesantren. Padahal menurut saya, sikap dan kebijakan yang diambil atas anak adalah kejujuran yang sebenarnya.
Dalam hal pendidikan ini, saya rasa sudah saatnya warga NU jujur pada diri sendiri. Kalau memang lembaga pesantren dinilai tidak memadai lagi untuk pendidikan anak-anak kita, maka ayo bersama-sama diperbaiki dan diperbaharui. Kita tidak perlu terus berpura-pura. Pondok pesantren yang merupakan peninggalan walisongo adalah lembaga pendidikan yang sangat hebat dan modern di jamannya. Namun, untuk konteks sekarang, tentu perlu adanya pembaharuan dan pembenahan.
Lalu bagaimana dalam berorganisasi? Sama halnya dalam pendidikan, kelas menengah NU juga menuntut adanya perubahan, baik dalam hal ketertiban, akuntabilitas, kedisiplinan, dan profesionalitas. Tidak bisa lagi, misalnya, rapat yang tertera di undangan pukul 13.00 WIB, namun kenyataannya baru dimulai pada pukul 15.00 WIB. Kalau tidak telat katanya bukan NU! Begitu juga akuntabilitas, dan profesionalitas. Harus ada pertanggungjawaban moral dan kerja yang nyata, terukur dan terencana. Rasanya tidak tepat lagi, seseorang menjabat sekian banyak jabatan di NU, namun dia hanya hadir pada saat pelantikan dan ‘’hidup’’ lagi saat akan ada pergantian kepengurusan empat atau lima tahun kemudian.
Mungkin, tuntutan perubahan dari kalangan menengah NU ini, tidak terdengar secara nyata. Namun bisa kita rasakan. Mereka yang mulai tidak bisa menahan kesabaran, pelan-pelan bergeser merapat ke kelompok lain. Dan ini, menurut saya, yang menjadi salah satu prakondisi yang menjadikan pertumbuhan dan perkembangan ‘’kelompok lain’’ cukup subur. Kelompok lain ini, bisa menyajikan lembaga pendidikan, tata organisasi dan gaya hidup yang ‘’khas rasa’’ kelas menengah. Hal ini, menjadi fenomena massif di banyak kota besar.   
Jadi, menurut saya, kita harus rela berubah dan secara sadar melakukan perubahan. Kita harus berupaya menanggalkan brandtradisional, brand ndeso dan miskin yang selama ini kita pelihara. Ketika kita hendak mendirikan sekolah misalnya, coba kita tanggalnya sesaat bayangan bahwa warga NU ini miskin, maka sekolah yang didirikan adalah sekolah ala kadarnya yang penting biayanya murah. Sekali-kali kita pasang target maksimal, sekolah berkualitas hebat, kendati harus agak mahal.   
Ini bukan berarti kita mengabaikan realitas bahwa warga NU juga masih banyak kelas bawah. Mereka harus kita pikirkan dan dibantu agar meningkat kelasnya. Namun yang tidak boleh kita abaikan adalah, jangan sampai kelas menengah NU yang juga menjadi realitas sejarah tersebut tidak nyaman dan tidak tertampung di NU lalu diwadahi oleh kelompok lain.
Kita harus menancapkan dalam hati kita bahwa ajaran ahlussunnah wal jamaah annahdliyah, masih perlu dilestarikan dan dikembangkan di bumi ini. Kita tentu sangat bersalah bila kepada anak cucu kita, kita mewariskan kondisi sosial keagamaan yang tidak ramah, tidak toleran, Islam tidak menjadi rahmatan lil alaminlagi, dan orang mudah saling mengkafirkan serta mudah menumpahkan darah sesama muslim, gara-gara ajaran ahlussunah wal jamaah annahdliyah tidak populer lagi.       
Mari kita berbuat yang terbaik untuk anak cucu kita! Wallahu a’lam bissawab!
Akhmad Zaini, Pemimpin Redaksi NUsa