JEDA NUsa EDISI 05 – Damai Itu Indah dan Perlu

oleh -101 views


Ambon adalah noktah hitam besar dalam peta kerukunan antarumat yang berbeda keyakinan. Daerah lain semestinya juga memberikan noktah yang sama hitamnya –yang terbaru adalah serangan terhadap pengikut Syiah di Desa Karang, Kecamatan Omben, Sampang–, hanya skalanya lebih kecil.
Sebagai jurnalis, saya sempat merekam, mencatat, merasakan betapa kerusuhan di Ambon menimbulkan kerusakan, kepahitan dan kegerian luar biasa. Beberapa orang menyimpan pengalaman pahit tentang ibu, adik atau kakak perempuannya yang diperkosa atau dibantai segerombolan orang bertopeng dengan sangat sadis.
Ketika saya ke sana akhir 1999 untuk peliputan beberapa hari, Ambon bagai kota mati. Semua orang dihinggapi rasa takut dan was-was. Mereka tidak berani masuk ke zona yang dianggap masuk zona lawan. Beberapa fasilitas sosial terpaksa harus berdiaspora menjadi dua: satu untuk kelompok Acang (Hasan/muslim) dan Obet (Robet/Kristen). Di Ambon terpaksa harus ada pasar khusus kaum Acang, di pihak lain juga ada pasar kaum Obet. Begitu juga terminal, angkot, dermaga, perahu penyeberangan, bank, hotel, sekolah dll., semua harus ada dua. Koran pun di sana harus ada dua: Ambon Ekspres (muslim) dan Suara Maluku (Kristen). 
Aparat keamanan bersenjata lengkap–yang juga terkelompokkan menjadi Acang dan Obet—berjaga-jaga sepanjang hari di seluruh sudut kota. Letusan suara senapan yang menimbulkan kepanikan warga juga sering terdengar setiap malam.  
Sungguh menggerikan! Saya yakin, orang beragama atau beraliran (bermadzhab) apa pun tidak ingin merasakan kehidupan yang seperti itu. Semua orang tentu ingin merasakan hidup yang damai, aman dan tidak mencekam. Karena itu, benar dan seharusnyalah kita mengupayakan dan mempopulerkan slogan ‘’Damai itu Indah’’.
Ya…damai itu ‘’Indah’’ dan ‘’Perlu’’. Itu hajat kita semua. Anak cucu kita juga butuh diwarisi kondisi yang seperti itu. Semua umat manusia memerlukan kedamaian. Beberapa tokoh agama yang memiliki kesadaran akan perlunya kedamaian umat manusia merasa perlu beberapa kali menggelar dialog antar-iman (keyakinan), baik di level regional, nasional atau internasional. Tokoh-tokoh terkemuka Indonesia seperti almarhum Gus Dur (NU), Buya Syafi’i Ma’arif (Muhammadiyah), almarhum Nurcholish Madjid, dan tokoh dari beberapa agama tercatat sebagai penggiat dialog tersebut.
Para tokoh itu berkumpul untuk mengikhtiarkan sebuah kedamaian yang indah. Saya yang sempat mengikuti pertemuan para tokoh agama pencinta perdamaian di Perth, Australia Barat pada November 2009 menyaksikan betapa mereka bekerja keras untuk merukunkan umat manusia yang secara sunatullah tidak mungkin berkeyakinan atau beraliran (bermadzhab) sama. Mereka mencari sejumlah titik temu yang bisa menjadikan umat manusia yang berbebeda-beda keyakinan dan aliran bisa hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati.
Dari dialog yang intensif diperoleh kesimpulan bahwa konflik yang berlatar belakang beda keyakinan atau aliran harus dihindarkan. Sebab, di antara konflik umat manusia, konflik yang berlatar belakang keyakinan atau aliranlah yang paling sadis, kejam dan sangat sulit diselesaikan. Ini tidak lain, keyakinan menyangkut hal yang sangat prinsip dalam kehidupan manusia. Itu urusan hati!
Menyatukan umat dalam satu keyakinan adalah kemustahilan yang sangat besar. Padahal, di era globalisasi saat ini, interaksi global yang tak lagi mengenal keyakinan, warna kulit dan bahasa, dll. tak bisa dihindarkan. Artinya, secara sosial, ummat manusia di bumi ini akan berinteraksi satu dan lainnya, meski beda keyakinan. Di sinilah, ayat; ‘’Bagimu agamamu, bagiku agamaku’’ mendapat konteksnya. Ayat itu mengajari ummat Islam bagaimana hidup dalam era globalisasi saat ini.
Sayang, di tengah upaya membangun perdamaian tersebut, masih banyak orang yang bermain api. Mereka mencoba mengingkari kenyataan bahwa keyakinan adalah soal hati yang tak bisa dipaksakan. Mereka mencoba memaksakan keyakinan yang dimiliki kepada pihak lain. Mereka rela mencaci, mengeluarkan kalimat-kalimat tidak elok kepada pihak lain yang berkeyakinan beda. Dan itu, masih mudah dijumpai, termasuk di Tuban ini.
Pada akhir Agustus lalu, saya begitu merinding mendengarkan cacian, hinaan kepada pihak lain yang saya dengar dari sebuah masjid di Kota Tuban. Tentu saya sangat menyayangkan si penceramah yang terkesan paling benar dan paling terjamin masuk surga sendiri. Namun yang lebih saya sayangkan, panita lokal di Tuban yang menyediakan forum bagi seseorang yang ingin manabur kebencian kepada sesama muslim.
Berpegang teguh pada keyakinan yang diyakini benar adalah keharusan. Namun, tidak selayaknya bersamaan dengan itu, merendahkan dan menghinakan keyakinan yang juga diyakini kebenarannya oleh pihak lain. Apalagi masalah yang dipersoalakan hanyalah masalah furu’iyah. Kita harus belajar dari sejarah, betapa banyak nyawa umat Islam melayang dan darah berceceran sia-sia karena perbedaan keyakinan atau aliran (madzhab). Sementara hingga kini, aliran atau madzhab dalam Islam tetap saja tidak bisa disatukan.

Kasus Ambon dan Sampang yang saya sebut di awal tulisan harus dijadikan pelajaran untuk dijadikan rem agar kita tidak mudah menghina, melecehkan dan menaburkan bibit kebencian kepada pihak yang kebetulan tidak seiman dan sekeyakinan. Sungguh, damai itu indah dan perlu. Mari kita ikhtiarkan bersama! Wallahu’alam bissawab. (*)