JEDA NUsa EDISI 07 – Teringat Gus Dur

oleh -122 views


Ingatan saya tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali muncul ketika sebuah majalah beberapa waktu lalu mewartakan peringatan 1000 hari wafatnya tokoh kharismatik NU ini. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Gus Dur yang masih terasa begitu lekat di hati saya, ternyata per Desember ini telah 3 tahun meninggalkan jutaan umat (baik warga NU maupun non NU, bahkan non muslim) yang mencintainya.  
Saya bukanlah orang dekat beliau. Namun, saya termasuk orang yang beruntung. Sebab, selama lima tahun (1999-2003), saya berada di atmosfir kehidupan cucu pendiri NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari ini. Hampir setiap hari saya bertatap muka dengan beliau. Saya juga pernah berdialog panjang dengan Gus Dur di dalam mobil yang hanya ditemani Mbak Yeni (putri kedua Gus Dur) dan seorang sopir. Beberapa kali pula saya naik pesawat dan pergi ke beberapa negara (dari Arab Saudi, beberapa negara Eropa hingga Thailand) bersama Gus Dur.  
Sebagai warga NU yang kagum dan mencintai Gus Dur, saya sangat bersyukur dengan semua itu. Saya merasa lebih beruntung dibanding warga NU lain yang mungkin tidak mudah bertemu, bahkan sekedar bersalaman sekali pun. Ya..begitulah. Sebagai wartawan, memang saya memiliki sedikit ‘’keistimewaan’’ (he..he..he..).
Begitu banyak catatan penting perihal Gus Dur yang saya miliki, terutama selama 2 tahun tatkala beliau menjadi presiden. Banyak perubahan mendasar yang beliau lakukan. Membongkar kesakralan istana adalah langkah pertama yang dilakukan Gus Dur. Arus informasi dari istana negara yang di era Soeharto begitu tertutup, di era ini langsung dibuka selebar-lebarnya. Ratusan wartawan tanpa prosedur yang ketat bisa menjadi wartawan istana.
Berikutnya (ini yang luput dari perhatian publik), Gus Dur juga memporak-porandakan keistimewaan pegawai istana yang pernah diciptakan oleh Soeharto. Gus Dur mencabut keputusan Soeharto yang memberikan tunjangan khusus (konon dua kali lipat dari pegawai pada umumnya) kepada pegawai negeri yang bertugas di istana. Bersamaan dengan itu, mantan ketua umum PB NU ini juga menata rekening-rekening yang menampung dana Banpres (bantuan presiden) miliaran rupiah yang sebelumnya berceceran di rekening pribadi para pejabat istana. Gus Dur juga menghapus jatah rutin bulanan dan fasilitas lain untuk wartawan.
Di luar istana, seperti tersiar luas, Gus Dur juga melakukan pembenahan mendasar lainnya. Dari menghapus Depsos (Departemen Sosial) dan Deppen (Departemen Penerangan),  pembenahan di tubuh TNI (untuk pertama kalinya posisi panglima TNI tidak dijabat dari unsur TNI AD), dan masih banyak lagi. Pendek kata, begitu menginjakkan kaki di istana, Gus Dur berusaha sangat keras untuk membenani dan merubah warisan pemerintahan Orde Baru yang menjadikan media dan aparatur negara serta pemerintahan untuk kepentingan kekuasaan Soeharto.
Tentu, perubahan mendasar tersebut harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Di hadapan saya, beberapa pegawai istana dan wartawan sering mengeluarkan cemoohan yang tidak pantas. Pembicaraan positif tentang Gus Dur menjadi sangat tidak populer di lingkungan istana. Saya yang sejak kuliah di Semarang menjadi pengagum Gus Dur, selama berada di dalam istana terpaksa harus menyembunyikan kegaguman itu. Pernah suatu ketika, bertemu Mbak Yeni untuk urusan serius saya harus sembunyi-sembunyi.
Sebagai orang nomor satu di istana, Gus Dur tidak begitu dihargai. Bahkan, seorang pengawal pun pernah saya saksikan meledek kekurangan fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dengan normal, ketika Gus Dur kesulitan keluar dari mobil kepresidenan dan harus dipapah dengan hati-hati oleh ajudan.   
Semua ledekan dan cemoohan itu sempat saya sampaikan. Namun, semua itu tidak ditanggapi serius oleh Gus Dur. Beliau sepertinya ikhlas dengan semua itu. Untuk sebuah kebenaran, Gus Dur sepertinya rela dihina dan dicemooh. Pencitraan tidak terlalu dihiraukan. Bahkan terbukti, ketika lawan politiknya ingin menumbangkan dengan sejumlah alasan yang diadakan-adakan, Gus Dur pun tidak pernah mau mengubah kebijakannya yang dianggap tidak menguntungkan lawan politiknya. Dan sejarah mencatat, karena prinsip itulah Gus Dur akhirnya benar-benar dipaksa harus meninggalkan istana sebelum masa kekuasaannya berakhir.
Akhirnya, pembenahan mendasar itu pun terhenti. Yang harus dicatat, kegagalan itu tidak murni karena kelemahan Gus Dur. Beberapa ‘’oknum’’ orang NU yang seharusnya mendukung langkah itu, malah suka bikin ‘’ulah’’. Mereka yang sukses menempatkan diri menjadi ‘’orang dekat Gus Dur’’, bukanlah sibuk bekerja keras membantu Gus Dur membenahi negeri ini. Sebaliknya, mereka banyak yang berlomba-lomba dan cepat-cepatan mengeruk keuntungan pribadi. Dan itu, yang dimanfaatkan oleh lawan politik Gus Dur untuk melakukan serangan balik.
Hati saya tentu sangat getir dan pedih. Tapi, saya tidak bisa berbuat banyak, apalagi mencegah. Cara berpikir yang saya bawa dan pelihara, kalah populer dengan ‘’gaya baru’’ yang mereka bawa. Saya hanyalah percikan air  di tengah gemuruh ombak lautan luas.
Kini, semua telah berlalu. Gus Dur telah 3 tahun meninggalkan kita. Harapan saya, semoga kejadian seperti itu tidak terjadi lagi di mana tokoh NU sedang memegang tampuk kekuasaan. Khususnya di Tuban ini, di mana jabatan Bupati dan Wakil Bupati berada di tangah tokoh NU.(*)