JEDA NUsa EDISI 10//Maqqom Kampung

oleh

Berita penangkapan dan penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka kasus suap daging impor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada akhir Januari lalu, sungguh mengejutkan saya. Rasanya tidak percaya. Namun, keraguan itu harus saya buang. Sebab, sampai detik ini, saya sudah terlanjur percaya dengan KPK. Saya percaya KPK tidak asal-asalan menangkap seorang petinggi partai.
Biasa, ketika sebuah kasus menimpa seorang tokoh (termasuk tokoh politik), pembelaan memang muncul dari kolega dan pendukungnya. Pemandangan itu pulalah yang mengiringi penangkapan Luthfi. Bahkan Anis Matta yang menggantikan sebagai presiden PKS menuding ada konspirasi.
Tapi…, wallahu a’lam. Allah yang lebih tahu. Bisa jadi, keyakinan saya akan KPK salah. Namun yang pasti, kasus ini menjadikan memori saya kembali ke masa lalu: 10 tahun lalu, di saat saya masih menjadi redaktur politik di Jawa Pos. Kala itu, saya sering dimintai  pendapat serta pandangan oleh para politisi, baik di level cabang, propinsi dan nasional. Dan karena saya diketahui sebagai wartawan yang berlatar belakang NU, maka yang paling banyak minta pendapat adalah para politisi PKB.
Seperti biasa, saya selalu memberikan pendapat dengan ‘’semangat 45.’’  Saya ungkapkan sejumlah teori politik yang ideal seperti yang saya pelajari selama menimba ilmu di pascasarjana ilmu politik UI. Dan tak ketinggalan, sebagai santri saya juga menyampaikan kaidah-kaidah agama yang seharusnya dipegang teguh dan dilaksanakan politisi. Saya ungkapkan juga langkah-langkah politik yang menurut saya selaras dengan akal sehat dan bisa memperbaiki citra partai.
Dalam konteks politik saat itu, saya acap kali memuji dan menjadikan perilaku politik kader-kader PKS sebagai contoh. Kala itu, saya sangat menyakini bahwa informasi yang saya ketahui tentang kebersihan dan kesalehan kader-kader PKS dalam berpolitik memang patut dijadikan contoh. Sehingga, pujian dan ungkapan kagum itu selalu saya sampaikan dengan penuh percaya diri.
Sikap saya itu, sering kali membuat keki peserta diskusi. Salah satu orang yang secara terbuka menyampaikan ketidaksukaannya adalah Mbak Yeni, putri Gus Dur. ‘’Mesti Mas Zaini ngomongnya begitu. Benar seperti itu toh?’’ ungkapnya dalam berbagai pertemuan. Mendengar ungkapan itu, saya cuek. Lama-lama, sepertinya Mbak Yeni pun semakin bosan dengan pandangan saya dan mengurangi intensitasnya berkomunikasi.
Meski sebagai wartawan yang pernah meliput di istana beberapa tahun dan bergaul secara langsung dengan politisi nasional, saya ternyata masih katrok alias ndesit bin kampungan. Saya terlalu lugu. Saya membawa kebiasaan saya sebagai orang kampung yang terlalu percaya dengan orang lain, selalu berprasangka baik, selalu menggunakan akal sehat sebagai standar berpikir, dan selalu berusaha menyesuaikan antara apa yang ada di hati dengan ucapan dan tindakan. Saya kurang memberikan wilayah abu-abu yang sepertinya sangat dibutuhkan dalam membaca politik Indonesia.
Pokoknya ndesit, katrok dan kampungan. Jika teringat itu, saya jadi tersenyum sendiri. Geli! Saya jadi paham, mengapa Mas Saiful—begitu biasanya saya memanggil– (wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang kini populer dengan sebutan Gus Ipul), sering memanggil saya dengan ‘’syekh’’. Mungkin jalan pikiran saya terlalu tua, terlalu lugu, terlalu hitam putih dan terlalu tidak sesuai dengan alam sekarang.
Sekarang saya benar-benar jadi orang kampung. Meninggalkan Jakarta dan Surabaya. Sejak mengundurkan diri dari Jawa Pos pada 10 Juni 2011, saya tidak lagi bergaul dengan para elite nasional. Kini saya hanya bergaul dengan orang-orang biasa. Orang yang mayoritas lugu seperti saya. Orang yang masih melihat dunia hitam putih, tanpa menyisihkan area abu-abu.
Dalam konteks ilmu Sosiologi, saya mengalami penurunan stratifikasi sosial. Namun, entahlah, saya kini lebih bahagia. Saya merasa lebih at home dan familier dengan nuansa ‘’kampung’’ tersebut. Jauh beda dengan dulu, di mana saya merasa sangat terasing. Saat itu saya seperti Tarzan masuk kota; yang binggung melihat orang bisa kaya raya dan berfoya-foya tanpa pekerjaan jelas, heran melihat aktivis yang baru saja menjadi politisi langsung kaya raya, bingung melihat politisi yang gaya hidupnya jauh melebihi pendapatan yang dia peroleh, heran melihat orang licik yang antara ucapan dan perbuatan berbeda, namun karena menguasai media, dia bisa banyak dipuji dan digadang-dagang menjadi presiden.
Sungguh saya tidak menyesal dengan semua itu. Karena dengan menjadi orang kampung, ternyata lebih mudah memelihara kejujuran, lebih mudah mencari uang yang halal, lebih mundah menghindari dari perebutan jabatan yang memang seharusnya tidak diperebutkan karena itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan, lebih mudah menghindari dari perilaku menggarong harta negara (korupsi), dan yang terpenting, insya Allah juga lebih mudah mencari bekal untuk kehidupan akherat.
Keputusan saya pulang kampung memang aneh! Makanya saya tidak heran, bila mantan ketua PW Ansor Jawa Tengah Ni’am Salim yang sekarang menjadi Duta Besar di Aljazair, suatu ketika menelpon saya dari Al Jazair dan mengungkapkan keherannya. ‘’Apa sih yang kamu tunggui di Tuban? Seberapa besar usaha yang kamu kelola?’’ ungkapnya.
Namun biarlah! Kebahagiaan memang ada di mana-mana. Orang punya maqqom sendiri-sendiri. Maqqom saya memang orang kampung. Kultur kampung rasanya lebih pas untuk saya! (*)