JEDA NUsa EDISI 31//Revolusi Mental (1)

oleh
Saya sangat bersyukur istilah ‘’Revolusi Mental’’ sekarang begitu populer di Indonesia. Saya merasa berkewajiban menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah mempopulerkannya. Semoga istilah itu tidak hanya sebatas populer, namun juga menjadi gerakan perubahan di masyarakat.
Revolusi adalah kebalikan dari evolusi yang mengandung makna perubahan secara pelan. Jadi, secara sederhana istilah ‘’Revolusi Mental’’ mengandung makna dan keinginan adanya perubahan mental yang cepat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Keinginan Presiden Jokowi itulah yang menjadikan saya pada pemilihan presiden lalu menjatuhkan pilihan kepadanya.
Sejak masih  di Jawa Pos, saya sudah memimpikan adanya perubahan mental yang cepat di masyakakat. Berbagai tulisan saya di Jawa Pos mengekspresikan keinginan tersebut. Dan, saya semakin menyadari perlunya ‘’Revolusi Menta’’ ketika saya menjadi ketua PC Ma’arif NU Tuban saat ini. Dalam berbagai kesempatan, saya mengungkapkan keinginan itu. Hanya istilah yang saya pakai, bukan revolusi mental, melainkan perubahan minside atau perubahan pola pikir.  
Spirit atau ruh yang terkandung dalam kalimat ‘’perubahan minside’’dan ‘’revolusi mental’’ semestinya bak dua sisi mata uang; seide, seirama. Bukankah perubahan mental harus diawali dengan perubahan pola pikir? Namun saya akui, bahwa istilah revolusi mental mampu membangun imajinasi yang lebih heroik, lebih terasa emosinya. Inilah ‘’kehebatan’’ pilihan kata yang dipakai Jokowi.
Lalu, seberapa pentingkah revolusi mental bagi bangsa ini? Sangat perlu. Sejak masih menjadi wartawan di Istana Negara dan Gedung DPR/MPR, saya melihat betapa rumitnya mentalitas para elite kita. Mental mereka benar-benar sudah kacau balau. Kekuasaan dan kewenangan yang ada di tangan mereka, sepertinya semata-mata dilihat dari sisi kesempatan untuk mengeruk kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang bahwa kekuasaan dan kewenangan adalah amanah yang harus dijalankan demi kesejahteraan rakyat, seakan tidak mendapatkan tempat.
Parahnya lagi (maaf) mentalitas semacam itu juga menjalar ke beberapa tokoh yang berlatar belakang pesantren (nahdliyin) yang saya temui di Jakarta. Saya sering merasa patah arang. Seakan, pada waktu itu, sulit sekali mencari teman yang ‘’seiman’’. Hal inilah, yang pernah saya gambarkan dalam tulisan saya sebelumnya (Nusa edisi ke-10) di mana ketika di Jakarta saya bagaikan Tarzan masuk kota. Bingung dan tidak bisa memahami lingkungan sekitar. Dan faktor itu pulalah yang menjadikan saya bertekat untuk tidak ‘’melanjutkan karier’’ di Jakarta dan memilih menjadi Wong Ndeso di Tuban.
Tentu, satu dua orang yang masih baik mentalitasnya tetap ada. Namun, jumlah mereka sangat sedikit. Seribu  banding satu. Sangat-sangat sedikit. Sehingga sangat sulit ditemukan dan langka. Keberadaan mereka tertutup rapat oleh kelompok yang mentalitasnya sudah kacau balau.
Dalam berbagai kesempatan kuliah, saya sering mengatakan kepada mahasiswa kalau umat Islam di Indonesia kebanyakan sudah berpaling ke lain hati atau selingkuh. Mereka mengaku sebagai muslim, namun ternyata dalam praktek kehidupan sehari-hari mereka tidak menggunakan Islam sebagai falsafat hidup. Tanpa terasa (mungkin juga tak disadari) faham materialisme dan kapitalisme telah menjadi pegangan baru. Mereka telah menjadikan dua faham ini sebagai acuan hidup. Mereka bertindak dan bergerak atas bimbingan kedua faham ini. Sehingga materi dan modal (kapital) menjadi tujuan utama dari gerak langkahnya.
Di bawah ini saya mencoba akan memberikan ilustrasi, betapa ‘’perselingkuhan’’ itu telah mewabah di tengah-tengah umat Islam;  
Falsafah Islam mengajarkan, mengajar adalah ibadah. Seorang yang memiliki ilmu, haram hukumnya menyembunyikannya. Mereka yang mengajarkan ilmu kepada orang lain dan ilmu itu dalam perkembangannya memberikan kemanfaatan, maka orang yang mengajarkannya itu akan terus menerus mendapatkan pahala, meski yang bersangkutan telah meninggal dunia. Sekarang, pertanyaannya; seberapa banyak guru-guru kita yang masih berpegangan pada prinsip seperti itu?
Ilustrasi kedua;
Jabatan adalah amanah. Tak selayaknya seorang muslim memperebutkan sebuah jabatan. Namun, apabila amanah itu diembankan ke pundaknya dan dia mampu melaksanakannya, maka tak sepatutnya dia menolak jabatan itu. Dia harus memikulnya dengan penuh tanggung jawab, keilkhlasan dan kejujuran. Sekarang, apa fakta yang kita hadapi sehari-hari? Bukankah sudah sangat umum kita menyaksikan sesama muslim memperebutkan jabatan? Rasanya, jabatan-jabatan publik di negeri ini, dari kepala desa hingga presiden, juga anggota dewan harus diperebutkan dan dipertarungkan. Praktek suap menyuap pun (money politics) bukan hal yang tabu lagi. Lebih miris lagi, belakangan ini, beberapa kasus menunjukkan posisi-posisi struktural di NU yang penting pun sudah diperebutkan dengan menggunakan media uang.
Ini hanya contoh kecil. Saya rasa, terlalu mudah mencari contoh-contoh lainnya. Jika kita ingin terhindar dari kehancuran, semua itu harus diubah. Harus dilakukan perubahan minside. Harus ada revolusi mental. Nabi Muhammad SAW menyelamatkan umat manusia, khususnya bangsa Arab dari kehancuran dengan cara melakukan revolusi mental. Mental jahiliyah menuju ke mental ilahiyah (Islam). Saat ini, kapitalisme dan materialisme telah menuntun manusia ke alam jahiliyah lagi. Hak dan bathil menjadi kabur.  Rambu-rambu kebenaran terlalu mudah dilanggar demi kepentingan duniawi yang menguasai pemikiran manusia sekarang.
Revolusi mental, bukanlah pekerjaan main-main. Butuh keseriusan dan kesungguhan dari pihak-pihak yang menghendakinya. Kita perlu membaca lagi sejarah, betapa para nabi yang berhasil melakukan revolusi mental di kalangan umatnya benar-benar berjuang tanpa lelah. Mereka memberi suri tauladan (uswatun hasanah) yang tidak henti-hentinya. Dan itu pun, memerlukan waktu yang tidak pendek. Nabi Muhammad SAW yang dianggap paling sukses melakukan revolusi mental pun paling tidak butuh waktu 23 tahun untuk menjalankan misinya itu.
Tapi, yakinlah kalau ada kemauan dan ikhtiar kita bisa! Jalan pasti terbuka. Mari mulailah dari diri kita masing-masing. Ibdha’ binnafsih! Wassalam…..(bersambung)