JEDA NUsa EDISI 41 – Sinergitas

oleh
‘’NU ITU BESAR. NU ITU HEBAT’’.
Kalimat itu sering saya ucapkan ketika memberi sambutan atau pengarahan di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif. Dengan mengucapkan itu, saya berharap para pengurus dan keluarga besar L.P. Ma’arif semangat, bangkit gairahnya, bangkit percaya dirinya, menyadari kalau dirinya besar, menyadari kalau dirinya berada pada lingkungan besar, menyadari kalau posisi dirinya berada di tengah-tengah komunitas (organisasi) yang luar biasa.
Menurut pengamatan saya selama ini (semoga tidak salah), salah satu faktor ketidakmajuan lembaga-lembaga di bawah Ma’arif adalah kurangnya semangat, kurangnya kepercayaan diri, dan kurangnya pemahaman akan peta keberadaan NU (termasuk Ma’arif) di tengah-tengah kelompok lain.  
Saya tidak asal bicara. Meski niat atau tujuannya memberi dorongan semangat, tapi saya juga mendasarkan kepada data-data penelitian. Dan, rasanya sebagian dari kita tidak terlalu kaget dengan hasil penelitian tersebut. 
Fakta yang ada adalah NU merupakan organisasi massa (ormas) Islam terbesar di dunia. Berdasarkan penelitian beberapa lembaga survey pada pemilu 2014 lalu, warga muslim Indonesia yang berhaluan NU, diperkirakan 33 pesen dari 250 juta penduduk Indonesia. Jadi, warga nahdliyin kisaran 82,5 juta. Sedang saudara kita Muhammadiyah sebanyak 19 persen atau sekitar 47,5 juta. Separoh lebih sedikit dari warga NU. Adapun mereka yang di luar NU dan Muhammadiyah sebanyak 31 persen atau sebanyak 77,5 juta.
Jumlah 82,5 juta jiwa adalah jumlah yang sangat besar. Lebih besar dari penduduk beberapa negara Islam seperti Malaysia (30 juta), Arab Saudi (29 juta) dan Mesir hanya kisaran 82 juta. Turki yang dulu merupakan pusat Kekhalifahan Turki Usmani (yang merupakan pemerintahan Islam terbesar sepanjang sejarah peradaban Islam) hanya sekitar 75 juta jiwa. LUAR BIASA bukan?
Tidak hanya jumlah. Yang menjadikan NU layak disebut HEBAT adalah soal daya tahannya untuk hidup di berbagai gonjangan zaman. Saat ini, NU hampir berusia satu abad. Dalam rentan waktu panjang itu, NU hidup dalam dinamika kehidupan yang berliku dan berkelok. Di jaman penjajah, karena sikapnya yang non-kooperatif, anti politik asosiasi yang dilancarkan Belanda dan selalu membangkitkan semangat nasionalisme, NU selalu berada pada posisi ditekan. Ulama-ulama NU pun, demi menjaga eksistensi warga NU membangun pesantren (lembaga pendidikan) di tempat-tempat yang jauh dari keramaian (jalan raya).
Di era orde lama, meski kondisinya lebih baik, NU juga tidak bisa dikatakan enak. NU sempat harus berdarah-darah melawan keberutalan PKI. Di zaman Orde Baru (Soeharto), kondisi NU semakin termarginalkan. Soeharto yang di awal kepemimpinannya mengalami Islam fobia (takut dan penuh prasangka) menjadikan NU sebagai musuh politiknya. NU harus hidup dalam tekanan. Aktivis NU harus bergerak di bawah tanah. Gus Dur harus bersilat ala ‘’Dewa Mabuk’’ demi menjaga gerbang besar NU.
Kendati batu terjal harus dilalui, NU tetap eksis. NU tetap besar. Maka layaklah kalau jam’iyah yang didirikan para ulama mukhlis ini diberi label HEBAT. Ya…NU organisasi yang HEBAT plus LUAR BIASA.
Di era reformasi, kondisinya jauh lebih baik. Lapak demokrasi memberikan ruang kepada warga NU untuk tampil di tengah-tengah gelanggang. Namun, ranjau yang puluhan tahun telah ditebar oleh rezim Orde Baru masih berserakan di mana-mana. Dengan SDM (Sumber Daya Manusia) terbatas –karena puluhan tahun tidak diberi kesempatan—warga NU sering terkena ranjau. Kepiluan pun terkadang masih mendera warga NU di tengah-tengah bangsa yang sedang eforia merayakan kebebasan demokrasi. Warga NU sering tidak tahu caranya makan hidangan yang sudah tersaji di depan meja.
Namun toh demikian, , menurut saya, di era reformasi ini kondisinya tetap lebih baik. Dan saya yakin, warga NU akan bisa mengambil peran lebih besar manakala mampu memaksimalkan dan memenej potensi besar NU dan kehebatan organisasi yang didirikan oleh (insya Allah) para auliya’ ini.
Menurut saya, banyak potensi yang luar biasa besar yang bisa digali dari NU. Yang paling menonjol adalah potensi jumlah massa (pengikut), jaringan dan loyalitas warga nahdliyin kepada para tokohnya. Dari sisi SDM-pun kalau kita mau secara jeli mencari, warga NU yang pinter-pinter sekarang sudah banyak. Sekarang ini, mencari profesor dan doktor di lingkungan NU sangat mudah. Beda jauh dengan gambaran ayahanda Gus Dur, KH Wahid Hasyim ketika beliau masih sugeng, yang mengatakan kalau mencari intelektual di kalangan NU bagaikan mencari es di malam hari. Saat ini, kapan pun, jam beradapa pun, kita bisa mencari es. Begitu pun mencari doktor dan profesor di NU sekarang sangatlah mudah.
Hanya, mereka kadang tercerai berai di mana-mana. ‘’Penyakitnya’’ orang NU, mereka kadang tidak mudah menerima kader NU yang bau pesantrennya sudah berkurang. Padahal, nyata-nyata orang itu amaliahnya masih NU dan dzuriahorang NU.
Makanya, demi menggali semua potensi di atas, menurut saya, membangun sinergitas adalah sebuah keniscayaan. Sinergitas mengandung makna menghimpun, mengerahkan berbagai potensi warga NU untuk mewujudkan cita-cita bersama. Sinergitas juga mengandung makna, masing-masing potensi yang telah terhimpun tersebut melakukan peran sendiri-sendiri (bahasa birokrasinya sesuai dengan tupoksi) secara maksimal. Namun, muara dari kerja maksimal itu satu; kemaslahatan warga NU.
Apa kata kunci agar kondisi seperti itu tercipta? Jawabannya: KEBERSAMAAN. Kebersamaan dalam pemikiran, kebersamaan dalam tujuan, visi misi, kebersamaan keyakinan atau idiologi (aswaja), dan kebersamaan perasaan (tidak ada yang merasa lebih hebat, lebih tinggi derajatnya, lebih berhak dll).

Mungkin, menciptakan KEBERSAMAAN di lingkungan NU bukanlah hal mudah. Riak-riak perbedaan dan perselisihan senantiasa menyertai warga NU. Paham yang salah atau salah paham lebih sering terjadi dari pada paham yang benar. Namun, saya yakin, seiring dengan waktu, seiring dengan perkembangan SDM warga NU, perselisihan-perselisihan seperti itu akan menurun grafiknya. Orang yang terdidik, akan semakin berpikir dan bertindak rasional. Mereka tentu tidak akan mau menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga untuk pertengkaran-pertengkaran yang dipicu oleh persoalan-persoalan sepele. Wallahu a’lam! (*)