JEDA NUsa EDISI 42 – Tali Jagat NU

oleh
Dua Tahun memikul amanah sebagai ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tuban, saya benar-benar merasakan betapa beratnya mengurusi umat. Pernah suatu malam saya benar-benar merasa suntuk, jenuh dan lelah. Dan, tidak ada jalan lain kecuali saat itu saya menangis dan mengadu kepada Sang Khaliq. Saya minta diberi kesabaran,dikuatkan, dimudahkan dan diberi pertolongan.
Kendati demikian, insya Allah saya tidak menyesali taqdir ini. Sebaliknya, saya bersyukur. Beban berat ini saya maknai sebagai pelajaran mahal yang sedang saya jalani. Itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada diri saya. Itu adalah cara Allah menyelamatkan saya dari kekhilafan. Saya yakin Allah mempunyai skenario baik di balik semua itu.
Selama menekuni dunia kewartawanan selama 18 tahun lebih (4 tahun menjadi aktivis pers kampus di IAIN Walisongo Semarang dan 14 tahun lebih menjadi wartawan di Jawa Pos), tanpa terasa saya telah terjebak pada ‘’kesombongan’’. Lewat tulisan-tulisan yang saya buat, saya mudah sekali mengeluarkan kritik kepada siapa saja. Bahkan, tidak jarang pula saya mengkritik ulama-ulama NU. Saya mengkritik berbagai langkah atau kebijakan yang saya nilai tidak ‘’pas’’.
Karena kritik-kritik tajam itu, tidak jarang saya ‘’kena batunya’’. Saya pernah ditelpon dan ‘’didukani’’ Gus Mus (KH Mustofa Bisri) hampir satu jam. Gara-garanya, saya membuat tulisan dengan judul ‘’Netral yang Tidak Netral’’. Tulisan itu, mengkritik pertemuan para kiai NU (termasuk Gus Mus) di Kediri yang kecewa dengan pemerintahan Gus Dur.
Tapi, itu masa lalu. Tahun 2000. Alhamdulillah, mungkin karena tindakan itu tidak saya dasari kebencian dan niat jelek, kini Allah SWT menyelamatkan saya. Sekarang, saya diberi pelajaran hidup yang luar biasa. Allah menunjukkan betapa beratnya ngurusiumat. Butuh kesabaran ekstra. Mungkin kita memiliki niat baik, pemikiran baik, namun belum tentu niat baik itu diterima dengan baik. Salah paham, prasangka buruk, fitnah masih bisa muncul.
Dalam benak saya sering terlintas, jika sampai sekarang saya masih jadi wartawan, mungkin pelajaran hidup itu tidak saya terima. Kesalahan demi kesalahan masih saya lakukan. Bisa jadi, saya masih menjadi ‘’Tukang Kritik’’ yang angkuh. Banyak orang, banyak tokoh, banyak kiai saya komentari. Padahal, belum tentu semuanya benar.
Jadi, di situlah saya merasa bersyukur. Di situlah saya melihat rahasia besar mengapa Allah menakdirkan saya mencicipi amanah sebagai ketua Ma’arif di Tuban. Rupanya, inilah cara Allah mengingatkan, cara Allah memberi pelajaran, cara Allah menyelamatkan saya dari tumpukan kesalahan. Semoga pelajaran itu tidak harus lama-lama saya jalani. Semoga Allah segera memberikan ‘’predikat lulus’’ kepada saya.
***
Di luar pelajaran hidup yang saya terima secara pribadi, ada pelajaran mahal yang lain yang juga saya tangkap selama dua tahun ini. Yakni, soal tali jagat NU yang kendor. Satu sisi, tali kendor itu tentu potensial menimbulkan banyak masalah. Sebab, tersedia ruang gerak yang sangat longgar dan cair. Namun, di sini lain, tali kendor itu memberikan efek fleksebilitas dan elastisitas.
Saat Muktamar NU di Jombang Agustus lalu, KH Maemun Zuber menuturkan, dengan tali tampar yang kendor, NU harus mewadahi banyak orang. NU tidak hanya mewadani orang alim, orang-orang santri dan orang-orang yang ‘’bersih’’ dari dosa. Namun, orang-orang yang tidak masuk katagori baik, tidak masuk katagori alim, tidak masuk katagori santri pun, harus diopeni. Mereka yang tidak baik-baik ini, harus dididik dengan penuh hikmah agar akhirnya menjadi orang baik.
Mungkin, itulah salah satu rahasia mengapa nama organisasi ini Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), bukan Nahdlatul Ummah (kebangkitan umat). Saat itu, para ulama bangkit untuk menyelamatkan umat. Beliau-beliau terpanggil untuk berbuat sesuatu agar umatnya selamat dari kebodohan, kesesatan, kekhufuran, kenistaan, kemiskinan, penindasan dan lain sebagainya. Jadi, ulama itu bangkit untuk menolong. Bukan bangkit untuk mengapai kejayaan-kejayaan pribadi.
Maka, wajar kalau berat. Wajar kalau melelahkan. Orang yang tidak memiliki maqom ulama seperti saya, tentu beban itu masuk dalam katagori over capacityalias kelebihan muatan. Kalau lewat jembatan timbang Dinas Perhubungan, bisa jadi kena tilang dan tidak boleh melanjutkan perjalanan.  Dan jika tetap diperbolehkan jalan, maka jalannya akan menyek-menyek(tertatih-tatih). Jadi, tidak ada kata lain, kuncinya hanya tawakkal. Terus berikhtiar semampunya. Tanpa target. Dan selebihnya, selalu meminta pertolongan Allah. Minta dimudahkan. Dan juga minta diberi kesabaran.
Soal fleksebilitas dan elastisitas yang dilambangkan dengan tali kendor telah terbukti keampuhannya. NU bisa tetap hidup di era penjajahan Belanda dan era Orde Baru yang secara sistematis hendak melenyapkan NU. Ketika para tokoh NU dikekang, warganya tetap bisa leluasa bergerak leluasa melakukan konsolidasi. Melalui media-media kultural, seperti tahlilan, yasinan, manaqiban dan lain sebagainya warga NU tetap berada pada ikatan hati yang sama. Mereka tetap bergerak menjaga keutuhan NU, tanpa harus menunggu komando pengurus jam’iyah NU yang ada di atasnya.
Namun harus diakui, di sini lain fleksebilitas dan elastisitas ini, juga menimbulkan persoalan yang pelik. Di saat kondisi aman dan dibutuhkan konsolidasi yang konkret, dibutuhkan satu langkah yang sama, maka tidak mudah warga NU disatukan. Mereka tetap ingin bergerak sendiri-sendiri. Mereka tidak ingin diikat oleh aturan-aturan organisasi yang baku.
Nah, di sinilah pengurus organisasi NU harus memiliki kemampuan ekstra. Mereka dituntut untuk tetap memberikan ruang gerak yang longgar kepada warganya, namun di sisi lain, harus tetap bisa mengikatnya dalam wadah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Maka, para ulama terdahulu seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri dan kiai-kiai penerus beliau yang sudah terbukti bisa ngopeni dan bisa membesarkan jam’iyah Nahdlatul Ulama, menurut saya adalah orang-orang hebat. Orang-orang luar biasa. Orang-orang yang maqomnya di atas rata-rata.

Saya pun akhirnya merasa sangat kecil. Sangat lemah. Dan, tidak sepantasnya lagi dengan mudah mengeluarkan kritik. Wallahu a’lam bisshowab. (*)