JEDA NUsa EDISI 8 – Spirit Pesantren

oleh


Karena tidak mahir membaca kitab kuning, mungkin saya tidak bisa dikatagorikan sebagi santri sukses. Namun, saya sangat bersyukur pernah menjadi santri. Saya pernah tinggal di sebuah pesantren dan sekolah di Mathali’ul Falah asuhan Mbah Sahal (rais aam PB NU KH M.A. Sahal Mahfudz) Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.
Yang paling saya syukuri, selain mendapat wawasan dari Mbah Sahal, saya menemukan spirit pesantren yang ternyata tidak mudah dijumpai setelah saya ke luar dari pesantren. Yakni spirit beribadah kepada Allah SWT. Saya merasa sedang berada di jalur illahiyah (fi sabilillah) karena sedang menuntut ilmu.
Spirit ini tidak semata-mata memunculkan rasa bahagia dan harapan dapat pahala, namun juga memunculkan energi yang luar biasa dasyat. Dari energi itu, pekerjaan berat bisa dilakukan dengan ringan. Saya benar-benar merasakan besarnya energi itu ketika kelas II Tsanawiyah, saat harus menghafalkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik sebanyak seribu bait dan Ilmu Faraid seratus bait sebagai syarat naik ke kelas III.
Saya yang ketika masih di rumah (Kendal, Jawa Tengah) tidak pernah bertahan lama ketika sekolah diniyah, menghafal Alfiyah merupakan kemustahilan. Namun kali ini saya ’’nekat’’. Saya merasa ada energi besar yang mendorong saya untuk terus maju pantang mundur.
Bait demi baik mulai saya hafalkan. Setiap hari, selepas pulang sekolah dan makan siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya pergi ke kompleks makam KH Mutamakin di Kajen untuk menghafal. Saya sengaja pergi ke kompleks pemakaman, karena di tempat itu suasananya tenang. Santri yang sedang menghafal Al-Qur’an juga menambah dan menjaga hafalannya di sana. 
Alhamdulillah, dengan spirit itu, saya dengan cepat (sekitar 6 bulan) bisa menghatamkan Alfiyah dan Faraid. Bahkan, saya tercatat sebagai santri yang setor hafalan sangat awal (urutan kedua).
Bagi saya, pemahaman bahwa segala aktivitas di pesantren adalah ibadah, benar-benar telah menjelma menjadi spirit luar biasa. Saya bisa malampui ’’ujian berat’’, menumbangkan kemustahilan dan mengikis ketidakpercayaan. Itu adalah pembentukkan karakter ala pesantren yang hebat. Sungguh mengagumkan!
Entah bagaimana prosesnya, mengapa hal itu bisa tertancap kuat di lingkungan pesantren. Sementera di lembaga pendidikan lain di luar pesantren yang sama-sama thalabul ilmi, tidak merasa sedang beribadah. Padahal dengan spirit itu, seorang siswa bisa mendapatkan energi luar biasa besar.
Tidak munculnya spirit ibadah bagi siswa yang mencari ilmu di luar pesantren –termasuk madrasah non pesantren—agaknya karena mereka terlalu berorientasi pada materi. Mereka terjangkiti virus negara-negara non muslim (khususnya barat) yang terlalu materialistik. Mereka sekolah tidak dengan niat menghilangkan kebodohan. Namun dengan niat memenuhi kebutuhan industri. Mereka yang sekolah adalah calon-calon buruh pabrik yang diperuntukkan untuk menunjang kemajuan industrialisasi.
Jadi, mereka sekolah atau kuliah karena ingin mendapat ijazah. Dari ijazah itu mereka berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan formalitas belaka. Akibatnya, selama belajar di bangku sekolah, aktivitas sekolah banyak yang dilakukan sebatas memenuhi standar formalitas belaka. Esensi memanusiakan manusia sering terabaikan.
Saat ini banyak orang yang titelnya berderet-deret, namun ilmu yang dimiliki sangat tidak sebanding dengan titel tersebut. Mereka tidak berkarakter. Mereka memanfaatkan titel dan ilmu yang dimiliki semata-mata untuk mencari materi. Bukan untuk menciptakan kemaslahatan, baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakat.
Munculnya orientasi materi dalam dunia pendidikan, tidak semata-mata menghancurkan energi siswa untuk menekuni ilmu, namun juga menghancurkan karakter guru dalam mengajar. Guru mengajar tanpa ruh, tanpa hati. Siswa tidak dianggap sebagai anak yang harus diasuh dan dicerdaskan. Sebaliknya, siswa dipandang sebagai potensi ekonomi yang bisa dieksploitasi. Mereka pun akhirnya tidak mudah memberikan ilmu. Ilmu dipandang sebagai barang dagangan yang akan diberikan ketika proses jual beli telah berlangsung.
Ilmu akhirnya menjadi barang mahal. Guru hanya memberikan ilmu sesuai ’’argo’’. Bila siswa ingin mendapatkan lebih, maka harus ada tambahan argo. Siswa harus les tambahan di rumah guru. Dan untuk memberikan penekanan bahwa les itu penting, maka biasanya soal-soal yang diberikan dalam ujian adalah soal-soal yang telah diulas dalam les. Maka, anak yang ikut les, pada umumnya akan mendapatkan hasil ujian lebih baik daripada siswa yang ’’mbandel’’ tidak ikut les.
Sungguh saya tidak bisa membayangkan bila praktik jual-beli ilmu itu terus berlangsung di dunia pendidikan. Hanya orang yang berduit yang bisa menikmatinya. Padahal seharusnya, ilmu harus bisa dinikmati oleh siapa pun. Mereka yang memiliki ilmu, tidak boleh menyembunyikannya. Di sinilah ilmu akan bisa berkembang secara luas.
Karena itu, pesantren harus menjadi lembaga yang percaya diri. Tidak perlu terlalu risau dengan model pendidikan barat yang materialistis dan mengarah pada proses kapitalisasi. Pesantren harus memelihara tradisi yang ada selama ini.
Pembaharuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman (khususnya teknologi) tentu harus ada. Namun, sebatas pada pengembangan menejemen, alat ajar dan metodologi pengajaran semata. Tradisi pesantren harus dipelihara. Khususnya dalam hal tata nilai yang terkait dengan ilmu dan proses mendapatkannya.
Ilmu tidak boleh dipandang sebagai materi dan dikapitalisasi (diperdagangkan). Karena dari situlah kita akan terjebak pada kondisi di mana sirklus ilmu akan mengalami kebuntuan dan akhirnya melahirkan kekeruhan. Bila ini terjadi, –dalam bahasa pesantren–, keberkahan tidak ada lagi. Ilmu tidak mendatangkan kebaikan, baik bagi si pemiliknya maupun masyarakat sekitarnya. Wallahu al’alam.(*)