Jejak Kiai Ahmad Mutamakin Kajen, Pati di Desa Sugiharjo, Tuban

oleh -347 views
Ada Nampan Hingga Gentong di Masjid Karomah

BELUM DIPUGAR: Masjid Karomah Winong peninggalan Kiai Ahmad Mutakim.

KH Ahmad Mutamakin, Kajen Pati Jawa Tengah, diketahui memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Bejagung, Semanding Tuban. Di Masjid Karomah, Winong, Sugiharto, Tuban, ada petilasan yang menunjukkan kalau Kiai Mutamakin juga pernah menyebarkan Islam di daerah ini.  
Di antara petilasan yang ada di Tuban adalah Masjid Karomah Winong. Masjid ini terletak di Dukuh Winong, Sugiharjo, Kecamatan Tuban Kota. Situs masjid yang berjarak sekitar 7 km dari pusat perkotaan kota itu, merupakan salah satu tempat semacam padepokan milik Kiai Mutamakin saat menyebarkan agama islam. Sebelum dipugar oleh warga menjadi masjid yang lumayan besar pada tahun 1977, dulu tempat itu hanyalah tempat kecil yang digunakan oleh Kiai Mutamaqin untuk berriyadhoh dan bermunajat kepada Allah SWT.
Di sekitar masjid juga terdapat satu pohon sawo kecik yang sangat besar, diperkirakan berumur ratusan tahun. Pohon itu diyakini oleh masyarakat sekitar, sudah ada sejak zamannya Kiai Mutamakin. Tidak hanya itu, sebuah gentong dan benda persegi terbuat dari kayu seperti nampan juga termasuk peninggalannya.
Konon, gentong tersebut merupakan tempat menyimpan air untuk kebutuhan Kiai Mutamakin sehari-hari. Selain gentong, juga terdapat sebuah benda seperti nampan. Benda tersebut diyakini masyarakat sebagai alat yang digunakan di saat menyuguhi para tamunya Kiai Mutamakin. Masuk lagi ke dalam masjid, di situ tersimpan kayu berbentuk lonjong agak bulat konon digunakan Kiai Mutamakin dalam menaruh peci atau baldu.
 Selain itu juga terdapat sebuah batu kecil dan tumpul yang perkiraan digunakan untuk menumbuk. Di sebelah barat masjid terdapat sebuah sungai. Menurut cerita masyarakat sekitar, sungai tersebut merupakan tempat berwudhunya Kiai Mutamakin.
Sebelum masuk kawasan masjid Karomah Winong, di situ akan melewati sebuah gapura. Di mana gapura tersebut merupakan pintu masuk ke arah kawasan tempat pasujudan Kiai Mutamakin. Menurut cerita masyarakata sekitar, dulu saat orang masuk tanpa niat yang baik dan tidak sopan, maka orang tersebut tiba-tiba tidak bisa melihat orang lain.
Ta’mir Masjid Karomah Winong, H.Warsilan saat ditemui mengatakan, Kiai Mutamakin ini merupakan asli penduduk Winong, Desa Sugiharjo. Masyarakat biasa memanggilnya dengan sebutan Mbah Mutamakin. Kata sebagian ulama yang pernah datang ke Masjid Karomah Winong, Mbah Mutamakin masih keturunan bangsawan Jawa yang masih punya garis keturunan dengan Raden Patah (Kesultanan Demak) yang berasal dari Kesultanan Trenggono.
Sultan Trenggono mengawinkan salah satu putrinya dengan Jaka Tingkir (Sultan Hadiningkrat) yang mempunyai putra bernama pangeran Sambo (Raden Sumohadinegoro) yang menurunkan putra Kiai Mutamakin. Sedangkan dari jalur ibu, Kiai Mutamakin masih keturunan dari Syaid Ali Akbar dari Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban. Syaid Ali Akbar mempunyai seorang putra bernama Raden Tanu. Selanjutnya Raden Tanu mempunyai seorang putri. Putri tersebutlah yang menjadi ibunya Kiai Mutamakin.
Dijelaskannya oleh Ta’mir masjid Karomah Winong, bahwa semasa hidupnya Kiai Mutamakin sepenuhnya hanya mengabdikan diri untuk menyebarkan agama islam di daerahnya. Konon Kiai Mutamakin saat mudanya dulu pernah nyantri di di Sayyid Assyari sekarang Sunan Bejagung Lor. Hingga sampai dipinang menjadi menantunya. Selama menyebarkan agama Islam, Kiai Mutamakin selalu berpindah tempat. Kalau tempat tersebut dalam penyebarannya dianggap sudah berhasil, maka akan berpindah tempat. Seperti halnya sumur tua di Kuthi Desa Sumurgung, Tuban banyak yang meyakini bahwa sumur itu juga peninggalan Kiai Mutamakin.
”Kiai  Mutamakin katanya mbah buyut saya dulu, orangnya itu suka mengembara. Ke mana-mana selalu menyebarkan agama Islam. Dan selalu berpindah-pindah tempat yang bertujuan menyebarkan agama Islam,’’ kata Warsilan.
Menurut sebagian ulama, Kiai Mutamakin juga selalu berpegang teguh pada prinsip dan kepribadian tentang aqidah Islam. Sosoknya juga alim, terbuka dan berani. Tidak hanya itu, Kiai Mutamakin juga termasuk orang yang luwes dan kuat menahan hawa nafsu.
Selama perjalanan pengembaraannya dalam menyebarkan agama Islam, akhirnya Kiai Mutamakin menetap di Desa Cebolek, lalu di Kajen, Pati Jawa Tengah. Diceritakannya, saat berada di Kajen, Kiai Mutamakin bertemu dengan ulama lokal bernama Mbah Syamsudin. Dalam pertemuan tersebut terdapat dialog yang pada akhirnya berisi penyerahan wilayah Kajen dari Mbah Syamsudin untuk Kiai Mutamakin untuk merawat dan selalu mensyiarkan agama Islam dengan baik.
”Makam Kiai Mutamaqin tidak di Winong, namun berada di Kajen, Pati. Setiap tahunnya selalu diadakan acara haul untuk Kiai Mutamaqin. Tepatnya pada bulan suro, mulai tanggal 7 diadakan tahtimul Qur’an dan tanggal 10 acara puncaknya haul. Di sana makamnya Kiai Mutamakin juga bersandingan dengan Makam Mbah Syamsuddin,” tutur Warsilan, yang asli kelahiran Dukuh Winong ini.

Di Kajen tersebut kini bertebaran puluhan pondok pesantren yang pengasuhnya rata-rata keturunan Kiai Mutamakin. Di antara ulama yang mengasuh salah satu pondok di Kajen adalah KH M.A. Salah Mahfudz, mantan rais aam PB NU yang wafat pada 24 Januari 2014 lalu. (wandi)
GENTONG: gentong ini merupakan tempat menyimpan air untuk kebutuhan Kiai Mutamakin.
BATU TUMBUK: Batu kecil dan tumpul yang perkiraan digunakan untuk menumbuk
TARUH: Kayu ini konon digunakan Kiai Mutamakin dalam menaruh peci atau baldu.
MASIH HIDUP: Pohon sawo kini masih hidup sejak Kiai Mutamakin masih hidup.