Kami Juga Ingin Punya Selembar Kertas

oleh -508 views
JARAN JENGGO : Seorang pengantin yang diarak dengan menunggang Jaran Jenggo

*dari nikah masal peringatan Hari Jadi ke 724 Kabupaten Tuban

Oleh : M. Rizqi

TUBAN – Bibir Kuseni bergetar. Dengan terbata dia menirukan suara penghulu yang menuntunnya melafalkan ijab qobul nikah. Beberapakali dia harus mengulang kata-kata sakral itu. Agar ketika tangannya dijabat penghulu untuk menikahkan dia, kakek usia 66 itu bisa mengucapkan dengan lancar. Sehingga pernikahan dianggap sah.

Wajahnya terlihat tegang. Di dahinya terlihat ada titik keringat. Hembusan angin di dalam Masjid Agung Tuban yang dijadikan tempat akad nikah itu, tak mampu mengusir sumuk. Pasti hatinya berkecamuk. Sebab, pernikahan dia kali itu disaksikan oleh banyak orang. Bahkan, orang nomor satu di Tuban, yakni Bupati Tuban Fathul Huda menjadi saksi pernikahan Kuseri dengan Karmu, nenek berusia 54 tahun.

Bukan hanya bupati, karena wakil bupati (wabup) Noor Nahar Hussein, serta pejabat utama di Tuban lainnya juga menjadi saksi. Sebut saja, Ketua DPRD M. Miyadi, Kapolres Tuban AKBP Sutrisno HR, juga Dandim 0811 Tuban Letkol Inf Nur Wicahyanto juga hadir langsung. Berikutnya, para pejabat di jajaran pemkab Tuban.

Hari itu, benar-benar menjadi hari yang istimewa bagi pasangan asal Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding tersebut. Juga hari istimewa bagi 14 pasangan pengantin lainnya. Karena pernikahan mereka disaksikan oleh para pembesar di Bumi Wali. Mereka disubyo-subyo (dimulyakan) dengan dandanan pengantin lengkap yang mewah serta iringan-iringan yang meriah. Barangkali, itu adalah pengalaman paling indah bagi 15 pasangan nikah masal yang kemarin mengucapkan akad nikah itu.

Usai prosesi akad nikah, di jalan depan masjid sudah menunggu aneka iringan-iringan. Rombongan pengiring pengantin dibuka dengan tari sufi, yang berputar-putar itu. Lalu dilanjut dengan rombongan tari kuntulan, terdiri dari beberapa perempuan berdandan cantik.

TAK MAU KALAH : Gaya pengantin baru hasil nikah masal ini tak mau kalah dengan yang muda

Lalu dua ekor kuda yang didampingi pawangnya menyusul di belakangnya. Ya, dua ekor kuda itulah kesenian yang hampir punah. Namanya Jaran Jenggo. Dua kuda itu memang dilatih khusus untuk pertunjukan. Kepala kuda itu terus mengangguk-angguk, sebagai tanda hormat pada seluruh penonton yang memadati sepanjang Sunan Bonang, dan jalan lain yang dilalui iring-iringan. Sepasang pengantin menaiki dua kuda itu.

Untuk mendatangkan Jaran Jenggo, memang agak mahal. Sehingga, di kalangan masyarakat, sebuah kehormatan, sebuah kebanggaan dan kemewahan jika punya hajat seperti pengantin, sunatan atau hajat lain bisa menyuguhkan seni ini. Untuk sunatan misalnya, sebelum anak dikhitan, biasanya diarak dengan nunggang Jaran Jenggo keliling kampung. Saat ini, sudah sangat jarang dijumpai.

Di belakang Jaran Jenggo, rombongan pengantin yang baru saja menikah, berjalan mengiringi. Tetabuhan rebana dan salawatan terus berkumandang. Sungguh sebuah kehormatan bagi para pengantin itu. Mereka diarak dari masjid agung ke Pendopo Kridho Manunggal untuk ikut merayakan resepsi Hari Jadi Tuban ke 724, sekaligus resepsi atas pernikahan mereka. Aneka hiburan disuguhkan.

Bupati Tuban Fathul Huda mengatakan, ada 16 pasangan yang mendaftar, namun satu pasangan tidak datang saat akad nikah, sehingga hanya 15 pasangan yang dinikahkan. Karena sudah tercatat nikah resmi, maka mereka menerima buku nikah. Semula, ada yang sudah beranak pinak dan bercucu, namun belum punya buku nikah. Seperti pasangan Kuseri dan Karmu tersebut, yang menjadi pasangan tertua. Pasangan termuda berusia 20 tahun yakni Dwi Susilo dan Watiah asal Desa Sendangharjo, Kecamatan Kenduruan.

Pasangan menikah masal itu, berasal dari 7 kecamatan, selain dari Kecamatan Semanding dan Kenduruan, pasangan lain berasal dari Kecamatan Soko, Jatirogo, Bancar,Widang dan Kerek.

‘’Jika ada pasangan yang tidak punya buku nikah karena tidak menikah resmi, atau bahkan kumpul kebo, maka kita ikut berdosa kalau tidak bertindak. Karena itu, pemerintah memfasilitasi mereka untuk menikah resmi,’’ ujar Fathul Huda.

Bupati yang kiai itu mengatakan, dengan ikut nikah masal semoga kehidupan selanjutnya berkah. Karena, peserta nikah masal didoakan banyak orang. ‘’Semoga berkah karena doa dari banyak orang,’’ katanya.

Sementara pasangan yang menikah, rata-rata mengaku ingin hidup tenang. Sebab, meski mereka sudah mengaku menikah, namun belum punya buku nikah. ‘’Kulo pengin gadah buku sak uwek. (Saya ingin punya selembar buku),’’ ujar mereka sambil tersenyum, ketika buku nikah di tangannya.(*)