Mari Berkarya

oleh -270 views

 

Sri Wiyono,S.Ag, anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tuban

Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang naik, ada yang duduk menyamping. Ada yang sedih, ada yang gembira, dan mungkin ada yang biasa-biasa saja. Semua yang kita miliki dan kita sandang hanyalah titipan dan amanah. Dan suatu saat akan diambil kembali oleh pemberi amanah. Maka kita harus ikhlas ketika itu terjadi.

Belajar ikhlas ? Saya jadi teringat dengan wejangan salah seorang kawan diskusi, atau lebih tepatnya ‘guru’ saya. Ketika saya menceritakan ‘kegethunan’ saya atas suatu barang yang hilang. Barang itu biasanya selalu saya bawa. Hingga pada suatu saat ketika saya jalan bersama anak istri saya, barang itu dibuat mainan anak kedua saya yang masih kecil. Di bawa ke sana-kemari. Hingga saatnya pulang barang itu tertinggal.

Ketika saya ‘ngudoroso’ atas kehilangan barang tersebut yang juga pemberian ‘guru’ saya itu, dia berkata dengan enteng. Agar saya belajar ikhlas. Bahwa manusia ketika kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, hakikatnya adalah pelajaran dan cobaan dari Allah agar manusia belajar ikhlas. Sebuah kata yang enak didengar dan dikatakan, namun sangat sulit dilakukan. Termasuk saya, yang masih saja ‘gethun’ dengan kehilangan saya itu. Saya masih belum sepenuhnya bisa ikhlas. Ah, dasar manusia.

Saya juga kembeli teringat dengan pesan Bupati Tuban Fathul Huda dalam berbagai kesempatan. Bahwa aparat pemerintah hakikatnya adalah pelayan bagi masyarakatnya. Karena itu, kinerjanya harus bagus, harus benar-benar melayani rakyat dan benar-benar bisa membuat rakyat tersenyum. Ukuran kinerja baik itu sudah sangat jelas dn terukur. Ada tim yangb menilai keberhasilan dan kinerja pejabat. Maka, ketika pejabat tidak baik kinerjanya, prestasinya payah, inovasinya lemah, maka harus ikhlas menanggalkan jabatannya.

Pun demikian, pejabat harus selalu pintar mengembangkan diri. Harus pintar mencari terobosan untuk kemajuan. Pejabat juga tidak boleh sok pintar. Tidak boleh melampauai kewenangannya. Namun, potensi dan kemampuannya harus dimaksimalkan untuk menunjang kinerjanya. Jangan takut mencoba dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Ini, pesan Fathul Huda kala melantik ratusan pejabat kala itu.

Bupati yang juga kiai ini snagat faham dengan kondisi dan potensi dari masing-masing pejabatnya. Karena itu, pejabat yang dilantik, atau pejabat yang diangkat dalam suatu jabatan tertentu, sudah dinilai pas dengan kapasitas dan kemampuannya. Juga pas dengan kecenderungan yang dimiliki. Bukankah hasil assessment menunjukkan hal itu.

Maka dengan tegas bupati menyatakan tidak ada jabatan yang tidak penting. Semua jabatan penting, dan semua pejabatnya mempunyai tanggungjawab yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik. Hal itu untuj membantah rumor bahwa ada pos yangb disediakan untukj memarkir pejabat yang tidak produktif dan dinilai kinerjanya buruk. Sebut saja jabatan staf ahli misalnya. Rumor selama ini, staf ahli hanyalah jabatan ‘abang-abang lambe’. Artinya jabatan itu ada namun tidak mempunyai peran dan kewenangan layaknya pejabat lain.

Namun, di tangan Fathul Huda, staf ahli mempunyai peran dan fungsi yang barangkali justru snagat penting. Staf ahli akan langsung diawasi dan dikendalikan bupati. Staf ahli harus bisa menerjemahkan pemikiran bupati, kemudian menerjemahkan ke dalam program dan kegiatan di masyarakat. Nah loe, sulitkan? Betapa pentingnya jabatan ini jika dikembalikan ke ‘maqom’ sebenarnya.

Karena itu, mari kita ucapkan selamat untuk para pejabat yang baru dilantik. Pejabat yang benar-benar baru, atau pejabat lama yang harus dilantik kembali karena keharusan regulasi. Di tangan Anda semua, masa depan Kabupaten Tuban ini berada. Maka mari tunjukkan kinerja terbaik. Tunjukkan prestasi terbaik dan lakukan pelayanan terbaik. Jika tidak bisa, maka ikhlaslah Anda ketika harus digantikan pejabat lain yang lebih baik dari Anda.

Ukuran prestasi itu adalah karya nyata. Kerja nyata sangat ditunggu, bukan sekadar duduk dan tangan di atas meja. Karya Anda semua dinantikan untuk memajukan Bumi Wali ini. Mari berkarya, mari kerja nyata. Wallahu a’lam.(*)