Mengenal Sumber Air Murkudu Desa Mliwang, Kecamatan Kerek

oleh -345 views

 

Diyakini Buatan Wali, Dilestarikan Karena Menghidupi Ratusan KK

Untuk daerah gersang dan berada di dataran tinggi, keberadaan sumber air sangat penting. Karena itu, warga selalu menjaga dan berusaha melestarikan. Karena sumber tersebut menjadi nadi kehidupan mereka. Itulah yang dilakukan warga Desa Mliwang terhadap sumber air Murkudu.

MBAH SADI : Setia Merawat Sumber Air Murkudu

Beberapa warga datang naik motor. Mereka membawa jerigen plastik berkapasitas sekitar 50 liter. Sampai di sumber air yang dilindungi dengan bangunan gubuk kecil beratap genteng, mereka langsung menimba. Karena sumber air itu hanya dikelilingi dengan beton melingkar layaknya sumur. Dua atau tiga kali tarikan, sebuah timba berisi air yang jernih terangkat. Air itu, lalu dituang ke dalam jerigen yang dibawa. Setelah penuh, jerigen itu dibawa pergi dengan naik motor. Begitu berulang-ulang yang dilakukan warga saat ‘ngangsu’air.

Di sumur, saat pagi biasanya kondisinya cukup ramai. Beberapa warga bersamaan datang dengan tujuan untuk mengambil air. Karena hanya ada satu timba yang ditali dengan tambang plastik, warga harus antre menimba. Warga biasa naik motor karena lokasi sumber air itu cukup jauh dari perkampungan. Medannya juga naik turun, karena lokasi sumber air berada di atas bukit. Jika musim hujan, jalur menuju sumber cukup menantang. Licin dan berlumpur. ‘’Meski jauh ya tetap ke sini karena ini satu-satunya sumber air bagi warga,’’ ujar Tamaji,40, warga setempat.

Lokasi sumber air yang diberi nama Murkudu itu memang jauh dari perkampungan. Dari jalan raya Kerek-Tambakboyo berjarak sekitar 2,5 kilometer. Jalannya berada di tengah hutan dan tegalan, sehingga sepi. Lokasi sumber air yang berada di petak 11 A, RPH Gaji, BPKH Kerek KPH Tuban itu memang berada di tengah areal hutan milik Perhutani. Namun, Perhutani membebaskan warga untuk memasuki hutan itu dan mengambil air. ‘’Selama ini, Perhutani mempersilahkan warga memanfaatkan,’’ tambahnya.

Bagaimana sejarah sumber air itu ? Sadi,80, warga setempat yang saat ini mengelola sumur itu mengaku, dia tidak tahu persis bagaimana sumur itu ada. Sebab, ketika dia masih kecil orang tuanya sudah mengambil air dari sumber itu. Dulu, saat dia kecil, sumber air itu hanya dikelilingi dengan batu. Kemudian diganti dengan beton setinggi sekitar selutut orang dewasa.’’Sekarang diganti dengan beton melingkar setinggi pusar,’’ ujarnya.

Menurut cerita turun temurun yang pernah dia dengar, kakek 11 cucu ini mengatakan, jika sumber air tersebut diyakini buatan seorang wali yang kebetulan singgah di tempat itu. Karena butuh air, atas izin Allah wali tersebut menjejakkan kakinya ke tanah lalu muncul sumber air yang debitnya besar dan sangat jernih airnya. ‘’Menurut orang-orang tua dulu begitu ceritanya,’’ tutur dia.

Sadi mengaku baru sekitar 10 tahun ini ‘ngerumat’ sumur tersebut. Dia mengatakan, tidak pernah mendapat firasat apa-apa selama merawat sumber air utama bagi warga itu. Hanya, setiap tahun sebagai tanda syukur, warga setempat selalu melakukan syukuran atau kendurian atau yang lebih dikenal sebagai sedekah bumi. Pada jaman dulu, lanjut dia, sedekah bumi itu dimeriahkan dengan pentas tayub, namun sekarang tidak. Hanya membaca doa bersama di lokasi saja. ‘’Biasanya (sekedah bumi) pada bulan Besar atau musim haji,’’ jelasnya.

TAK PERNAH KERING : Warga Saat Mengambil Air di Sumber yang Tak Pernah Kering

Pria yang mengaku penah menikah 10 kali ini menyaksikan sendiri kelebihan sumur itu, yakni tak pernah kering airnya meski musim kemarau. Padahal, saat musim kemarau, bukan hanya warga Desa Mliwang saja yang mengambil air, namun warga desa lainnya juga ikut mengambil air di sumber air itu, karena kebanyakan sumber air di desa mereka sudah kering. ‘’Sejak saya kecil sampai setua ini, belum pernah tahu sumber air ini kering,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia berharap sumber air itu terus dilestarikan dan terus ada sampai akhir jaman. Karena anak cucunya dan keturunan-keturunannya kelak, juga para warga masih akan membutuhkan air dari sumber air tersebut. ‘’Ya terus diuri-uri,’’ harapnya.

Sementara, kondisi lingkungan di sekitar sumber air itu mengkhawatirkan. Sebab, ada tambang milik perusahaan semen yang terus mengikis daratan dan bebatuan. Hal itu dikhawatirkan memengaruhi kandungan atau cadangan air yang ada di dalam tanah. Jika kandungan air berkurang, ditakutkan sumber air di Murkudu itu juga berkurang. Karena itu, warga sangat bersemangat saat Perhutani mengajak menanami lahan di sekitar sumber air itu.

Wakil ADM Perhutani KPH Tuban Muchlisin Sabarna mengatakan, di wilayah tersebut masuk kawasan Lahan Dengan Tujuan Istimewa (LDTI). Sehingga, sumber air itu tetap dipertahankan. Hutan di kawasan itu tidak akan ditebang agar tetap bisa menyimpan air untuk sumber air Murkudu. ‘’Bahkan, kita tambah 2.000 pohon lagi di tanam di sana. Agar sumber air tetap ada karena itu penting bagi warga,’’ katanya.(rizqi)

 

Link Banner