Menuju Akhlaqul Karimah

oleh -167 views

 

Sri Wiyono,S.Ag, anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tuban

Dalam sebuah hadits, Rosulullah menerangkan bahwa diutusnya putra Abdullah tersebut untuk menyempurnakan akhlaq. Manusia yang diutus Allah sebagai khalifah di bumi, memang dibekali berbagai macam keistimewaan yang membedakan manusia dengan makhluq lainnya. Salah satunya adalah akhlaq.

Ketika akhlaq tersebut melenceng dari jalur yang seharusnya dilalui, maka butuh sentuhan untuk mengembalikan pada relnya. Butuh upaya untuk kembali menyempurnakan akhlaq yang melenceng tersebut. Sebab, akhlaq ini pula manusia menjadi makhluq paling sempurna dibanding dengan ciptaan Allah lainnya. Bukan sempurna kebaikannya, namun sempurna wujud dan keistimewaannya. Dengan keistimewaan itu pula, manusia bisa menjelma menjadi makhluq yang paling mulia, namun juga sebaliknya, jika manusia salah memanfaatkan dan menggunakan segala keistimewaan yang dimilikinya, manusia bisa menjadi makhluk yang hina.

Kembali pada tarikh bagaimana Rosulullah SAW dilahirkan. Kondisi tanah Arab sedemikian parahnya akhlaq para penghuninya kala itu. Sehingga, pada jaman itu dikenal sebagai jaman jahiliyah atau jaman kebodohan. Bukan bodoh dalam arti hafiah tidak mengenal baca tulis atau ketrampilan misalnya. Karena masa itu sudah banyak tokoh-tokoh besar, seniman dan sastrawan hebat, saudagar dan tokoh masyarakat yang disegani.

Namun, perilaku mereka saat itu tidak mencerminkan akhlaq sebagai manusia. Salah satu kejahiliyahan itu, adalah saat mereka tak menghendaki anak perempuan di keluarga mereka. Terlahir anak perempuan dalam sebuah keluarga merupakan aib, dan anak itu harus dilenyapkan. Juga perilaku memuja pada selain Tuhan, yang mestinya tak boleh dan haram disembah. Patung-patung mereka buat sendiri, disembah sendiri dijadikan patung-patung tersebut Tuhan.

Kehidupan masyarakat tanpa ada tata krama, berjalan bar-bar dan mengedepankan kekuatan fisik serta kekuasaan. Kaum lemah akan tertindas dan terpinggirkan jika mereka tidak punya kemampuan untuk melawan penindasan tersebut. Tidak ada kasih sayang, sangat jauh dari tepo sliro, unggah-ungguh dan sopan santun. Tak ada bedanya mana tua, mana muda, dan mana kawan, orang tua dan sebagainya.

Pada saat seperti itu Rosulullah dilahirkan, yang lalu menjelma menjadi manusia yang paling lembut, paling sabar dan paling mulia akhlaqnya dari seluruh makhluq ciptaan Allah. Karena kelembutan dan kasih sayang yang berbasis akhlaqul karimah itulah Rosulullah mampu menyebarkan Islam sampai ke penjuru dunia dengan damai.

Bukankah Islam juga berperang ? Iya, dan juga harus membunuh lawannya saat perang, namun perang itu dilakukan untuk membela agama Islam. Kaum kafir yang tidak mau tunduk dan terus melawan serta merongrong Islam tentu harus dilawan. Sebaliknya, meski kafir namun tidak menganggu tidak melawan pasti akan dilindungi dan tidak diutik-utik. Mereka bisa hidup berdampingan bersama muslim di bawah kepemimpinan Rasolullah. Jika ada konflik pun Rosulullah mendepankan musyawarah.

Akhlaqul karimah memang menjadi modal dasar di bidang apa saja. Akhlaq yang baik akan menjadikan seseorang laku di manapun tempatnya. Akan selalu menjadi pribadi yang menyenangkan dan dirindukan banyak pihak. Akhlaq yang baik pulalah modal untuk maju dan berhasil dalam mengatasi segala persoalan. Membangun akhlaq yang baik, sama artinya dengan membangun pondasi kokoh dalam pribadi seseorang. Pondasi yang kokoh bisa menopang apa saja di atasnya.

Anak-anak dan generasi muda penerus bangsa yang berakhlaqul karimah itulah yang yang sedang dibangun pemkab Tuban. Brand Tuban Bumi Wali bukan hanya embel-embel, namun sebuah cita-cita dan tantangan yang berat. Namun, setidaknya pemkab sudah berani melangkah untuk melindungi generasinya dari generasi yang tidak berakhlaq baik.

Melalui berbagai upaya dan aturan, pemkab ingin menjadikan generasi muda di Tuban yang berakhlaqul karimah. Karena itu, kemudian disusun peraturan daerah (perda) tentang hal itu. Juga ada peraturan-peraturan lain yang kemudian melengkapinya. Hanya, perda tersebut harus dievaluasi, karena ada perubahan struktur atau pengendali pendidikan. Saat ini sedang diproses perda baru tentang pendidikan, yang di antaranya juga memasukkan klausul tentang akhlaqul karimah.

Perda akhlaqul karimah ditujukan untuk siswa, diharapkan mereka bukan hanya cakap dalam ilmu pengetahuan umum, namun juga santun dan berakhlaq baik karena cukup mendapat sentuhan agama. Yang terbaru, pemkab memasukkan kemampuan baca tulis Alquran sebagai salah satu pertimbangan siswa SD untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Karena itu, siswa SD yang mau mendaftar ke SMP misalnya harus punya ijazah atau syahadah lulus TPQ.

Gayung pun bersambut. Dinas Pendidikan yang membidangi pendidikan langsung bergerak. Dan, karena belum faham mengenai seluk beluk TPQ yang notabene menjadi pekerjaan di kantor Kemenag, dinas pendidikan keliru membuat kebijakan. Dulu, sempat mencuat juga ketika dinas pendidikan seolah-olah akan membentuk TPQ-TPQ di sekolah. Reaksipun berkembang cepat. Sehingga akhirnya rencana itu pudar bersama waktu.

Dinas pendidikan kemudian koordinasi dengan Kemenag untuk merumuskan hal tersebut. Sebuah perjanjian kerjasama dilakukan. Hingga kemudian, dinas pendidikan mengeluarkan surat edaran yang tujuannya untuk memberi kesempatan siswa SD memperoleh syahadah tersebut. Caranya dengan ikut munaqosah atau ujian kelulusan siswa TPQ.

Reaksi keras pun kembali muncul. Sebab, dinas pendidikan langsung menyebut BKPRMI sebagai lembaga yang digandeng untuk menggelar munaqosah.  Surat edaran itu sudah menyebar, dan dalam edaran itu menginstruksikan kepala sekolah untuk menyosialisasikan dan mengkoordinasi siswanya jika ingin ikut munaqosah.

Menggandeng BKPRMI sebagai lembaga untuk munaqosah sudah dianggap salah, karena banyak TPQ lain yang berada di luar BKPRMI. Lembaga ini bukan satu-satunya lembaga yang bisa menggelar munaqosah dan berhak mengeluarkan syahadah.  Karena seluruh TPQ yang sudah berizin punya hak yang sama. Kenapa harus ke BKPRMI semua ? Itu sama artinya dengan menisbikan atau mengesampingkan TPQ-TPQ lain yang ada. Sama artinya tidak percaya dengan kapasitas lembaga-lembaga tersebut.

Celakanya, di lapangan BKPRMI memungut biaya bagi peserta munaqosah. Besarnya antara Rp 50 ribu sampai Rp 65 ribu per anak. Bahkan, di kecamatan lain ada yang menyebut sampai Rp 150 ribu. Maka rasan-rasan dan protes terus mengalir. Sampai-sampai Dewan Pendidikan juga turun tangan untuk mengklarifikasi hal tersebut. Bahkan, klarifikasi itu langsung dilakukan pada Bupati Tuban Fathul Huda dan Kepala Dinas Pendidikan. Disampaikan kebijakan itu mestinya ditinjau ulang.

Dan, akhirnya kebijakan itu memang ditinjau ulang. Jadwal munaqosah oleh BKPRMI yang mestinya mulai 4 Maret dan akan terus berlanjut sampai di 20 kecamatan, akhirnya diundur. Dan, bukan hanya BKPRMI saja yang boleh menggelar munaqosah. Dinas pendidikan menyatakan semua TPQ yang sudah berizin boleh menggelar ujian. Juga, untuk tahun ini tidak harus syahadah atau sertifikat lulus TPQ yang bisa dilampirkan untuk mendaftar ke jenjang pendidikan selanjutnya bagi siswa SD. Karena surat keterangan sedang menjalani pendidikan keagamaan atau sedang menjadi santri di TPQ sudah bisa dilampirkan. Artinya siswa SD tidak wajib lulus TPQ, namun diberi keringanan sedang menjadi santri TPQ saja sudah bisa.

Apapun kejadiannya, apapun kekhilafan yang muncul, namun niat pemkab baik. Niat dinas pendidikan baik, karena ingin mendidik anak-anak dan menjadikan anak yang berakhlaqul karimah. Meski dengan syahadah tidak menjadi jaminan anak benar-benar berakhlaq mulia, namun upaya tersebut patut didukung. Butuh proses panjang untuk menjadikan generasi yang santun, agamis dan berakhlaq mulia. Dan, itu bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun masyarakat juga punya kewajiban.

Keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Ayah ibu menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, sehingga harus memberi contoh dan mendidik anak-anaknya menuju anak yang berakhlaqul karimah. Dengan dukungan masyarakat, dan peran aktif serta keseriusan pemerintah, maka Allah SWT akan melihat upaya yang sungguh-sungguh itu. Sehingga kelak akan tumbuh dan muncul generasi-generasi muda yang berakhlaqul karimah di Bumi Wali ini. Wallahu a’lam (*)