Peringati Hari Santri Kemenag Bantu Korban Gempa

oleh -
SERAHKAN SANTUNAN: Kepala Kemenag Tuban Sahid saat Menyerahkan Santunan di Hari Santri

Wartawan: Nur Salam

Tabloidnusa.com – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Tuban mengeluarkan Rp 80 juta lebih untuk disumbangkan. Dana itu, di antaranya santunan bagi 5 orang siswa madrasah yang kurang mampu, 15 orang santri pondok pesantren  dan 35 kepala keluarga (KK) korban bencana gempa dan tsunami Palu Sulawesi Tengah asal Kabupaten Tuban.

‘’Total santunan senilai Rp. 22.550.000. Dana itu diambilkan dari unit pengumpul zakat (UPZ) Kemenag Tuban,’’ ujar Sahid.

Selain itu, kata dia, juga ada penyerahan sumbangan hasil penggalangan dana untuk korban gempa Palu dan Donggala oleh Penyelengara Syari’ah. Dana diserahkan Mashari kepada Kepala Kantor Kemenag.

‘’Dana bantuan yang akan diteruskan ke Kanwil Kemenag Provinsi Jatim sebanyak Rp 57.782.700,,’’ tambahnya.

Sementara peringatan juga ditandai dengan upacara di halaman kantor kemenag di Jalan dr. Wahidin Sudiro Husodo Tuban. Upacara dipimpin Kepala Kantor Kemenag Tuban Sahid. Kegiatan hari santri di kemenag Tuban berlanjut dengan kegiatan bhakti sosial pada 24 Oktober di Kecamatan Soko berupa penyerahan bingkisan untuk kaum dhuafa dan pengobatan gratis.

Juga Musabaqoh Qiro’atil Kutub (MQK) tanggal 30 Oktoberyang diikuti seluruh perwakilan pondok pesantren se Kabupaten Tuban  di pesantren Riyadul Mubtadiin, Singgahan.

‘’Serta ada diklat santri pada 31 Oktober di Pendopo Kridho Manunggal Tuban,’’ terang dia.

Sahid mengatakan, resolusi jihad yang dikumandangkan oleh hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya itu merupakan tonggak sejarah yang melahirkan Hari Santri. Karena dari pesantren saat itu nasionalisme dan bela negara juga berkobar. Hanya, seiring perkembangan zaman, kata dia,  pesantren mempunyai 3 tantangan.

Yakni; minimnya kesadaran untuk  mempelajari agama dari sumbernya yang asli berbahasa Arab seperti kitab kuning dan lainya. Masyarakat banyak yang lebih mempercayai sebuah kebenaran tanpa konfirmasi lebih jauh secara ilmiah, serta pemahaman keagamaan yang minim karena hidup di era milenial yang hidupnya 24 jam selalu berhadapan dengan internet.

‘’Di hari santri ini kita mempunyai kado berupa rancangan UU pondok pesantren  dan lembaga keagamaan yang masih digodog, dan dilaunching lagu resmi hari santri nasional yaitu mars santri,’’ katanya.(lam/wan)