RUBRIK BUDAYA TABLOID NUsa EDISI 3

oleh -152 views
Maraknya Kafe dan Kedai Kopi di Tuban

Oleh: Kangaidi

Ayo ngopi, ngopi yuk… siapa yang tidak pernah mendengar kalimat itu. dari anak-anak sampai aki-aki pasti pernah mendengar kalimat itu meski hanya satu kali dalam seumur hidup. Namun kebiasaan ini sudah ada sejak dulu dan kini semakin marak dengan berbagai variasi kopi maupun warung kopi.

Kangaidi

Nyangkruk dan ngopi ,menikmati kopi atau bisa juga diartikan meminum kopi di warung. kini nampaknya telah menjadi budaya baru di kalangan remaja. Tak hanya orang tua atau kaum lelaki saja seperti dulu. Kini, kaum wanita pun ketularan nyangkruk dan ngopi di warung.Entah apa penyebab awal munculnya budaya baru ini.
Nyangkruk dan ngopi dirasa sebagian orang menyenangkan. karena selain ritual ngopi, orang-orang penghuniwarung sering membahas hal-hal menarik untuk menjadi tema obrolan dan menikmati gorengan. Seperti kata Luthfi (20) sorang remaja yang telah menjadi pelanggan warung kopi di depan masjid Agung Tuban selama 3 tahun .
“kalau sudah di warung kopi semuanya bisa dibahas mas, orangnya juga enjoy-enjoy. Sering ngajak ngobrol asyik soal otomotif, mode HP, sepak bola, olahraga, berita di TV, politik, agama, sosial, pacar, sampe orang lewat apalagi cewek cantik yang lewat di depan kita. Terus kadang saya nggak ngopi itu nggak uenak mas, badan rasanya pegel-pegel, kadang juga gorengan di warung itu yang buat saya kesini”ujarnya.
Sebagian orang lainnya merasa jika ngopi dan nyangkruk adalah hal yang memalukan.
“Saya itu mas jarang ngopi, ya sampeyan juga tahu sendiri tidak semua orang marung kopi itu sekedar minum kopi ya ada yang punya tujuan yang lain. Saya juga malu nanti kalau ketahuan anak saya. Bapak ngopi, saya berarti boleh nanti malah jadi kebiasaan anak saya. Kadang mereka juga nggosip ngrasani tonggo mas, malah dadi doso.” Ujar Waluyo  (41) ,warga sekitar warung.
Maraknnya warung kopi yang berada di kota Tuban,di setiap warung pasti menyediakan kopi baik kopi deplok, kopi hitam, kopi susu atau kopi instan seperti Nescafe, cappuccino, kopi abc, dan sebagainya. Dan biasanya selain menyediakan kopi, pemilik warung juga menyediakan jaringan internet gratis (wifi), karaoke, nonton TV. tak hayal, semakin hari penghuni warung semakin bertambah, selagi warung kopi itu tempatnya nyaman dan ada fasilitas lain yang bisa dimanfaatkan pelanggannya. Namun yang biasa menyediakan fasilitas wifi hanyalah kedai-kedai kopi atau kafe-kafe tertentu tidak semuanya.
Sejarah awal mula keberadaan berbagai kedai kopi di belahan bumi ini bisa di telusuri di berbagai Negara. Sebuah kedai kopi di Makkah segera menjadi perhatian oleh para khalifah (pemimpin) karena menjadi tempat pertemuan politik, para khalifah itu kemudian melarangnya, begitu juga dengan kopinya yang ikut dilarang antara tahun 1512 dan 1524. Pada tahun 1530, kedai kopi yang pertama dibuka di Damaskus, dan tidak berapa lama kemudian ada banyak kedai kopi di Kairo.
Cappucino terutama populer dikalangan penikmat kopi Inggris. Dengan kepopuleran yang sama, di Amerika Serikat kegilaan akan espresso menyebar. North Beach di San Francisco menjadi saksi pembukaan Caffe Trieste pada tahun 1957, dimana dapat ditemui penyair-penyair generasi masa lampau seperti Allan Ginsberg dan Bob Kaufman di antara banyak imigran Italia. Cafe yang seperti itu juga dapat ditemui di Greenwich Village dan tempat-tempat lain.
Sebuah ” kedai kopi atau ” cafe “adalah suatu usaha yang terutama melayani kopi siap atau minuman panas lainnya historis. kafe telah menjadi titik pertemuan penting sosial di Eropa. Mereka-dan terus menjadi tempat-tempat orang berkumpul untuk berbicara, menulis, membaca , menghibur satu sama lain, atau menghabiskan waktu. Selama abad ke-16 kedai kopi yang dilarang di Mekah karena mereka tertarik pertemuan politik.  
Selain kopi, kafe banyak juga melayani teh , ekstra jos, kukubima, jahe, jeruk, kacang kue kering , dan minuman makanan ringan lainnya.  Beberapa menyediakan layanan lainnya, seperti kabel atau nirkabel akses internet untuk pelanggan mereka.
Di kafe hingga warung kopi, semua orang menjadi lupa dengan strata sosial masing-masing dan melebur menjadi penikmat kopi. Semuanya akan menyatu sesuai dengan gerombolan mereka. Rokok dan kopi yang selalu ada di depan mereka yang menemani mereka hingga larut malam dengan berbagai obrolan. Selain itu, meski di warung kopi atau di kafe tidak semuanya minum kopi ada yang minum jahe, jos susu, kukubima, bahkan es teh, teh hangat atau marimas juga ada. Yang penting mereka bisa berkumpul bersama saling bertemu dan mengakrabkan mereka.
“saya meski ke warung kopi, tapi saya tidak minum kopi dan merokok. Intinya mas yang penting solidaritas kami tetap terjaga sesame temana” ungkap Rudi (23).
“kalau saya mas, bangun tidur harus minum kopi. Kalau tidak membuat sendiri ya ke warung kopi mas. Tapi enak buatan orang lain mas” ujar Rohim.
Dalam wikepedia disebutkan Menurut orang Amerika meminum kopi karena kehausan. Mungkin persamaan kultur meminum kopi kita dengan orang Eropa ada keterkaitan dengan sejarah. Orang Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun ternyata suka sekali minum kopi. Asal tahu saja, Belanda menjadi negara Eropa pengimpor kopi terbesar di saat awal demam ngopi. Sayangnya, Belanda dan negara Eropa lainnya tersiksa dengan monopoli kopi pedagang Arab dan pencegahan penyelundupan bijih kopi oleh negara-negara Arab. Namun, akhirnya Belanda memperoleh bijih kopi selundupan dan membawanya ke negara-negara koloni di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Kopi sejatinya diawali sebagai minuman di beberapa negara muslim Arab dan Afrika Utara. Tanaman ini diperkenalkan ke masyarakat Eropa melalui pedagang muslim yang berkunjung ke Venesia, Italia. Dengan cepat, komoditas ini tersebar ke seluruh Eropa. Lantas, muncul cerita pro kontra. Banyak pendeta di Italia yang melarang pengikutnya minum kopi karena merasa kopi adalah ‘komoditas politik’ kaum muslim sekaligus akan menggeser anggur yang dikenal lebih dulu oleh mereka. Di kaum muslim sendiri, ulama konservatif di Mekah juga sempat melarang kopi karena ada efek kafein dikandungnya. Walaupun begitu, lambat laun larangan itu terkikis juga karena tidak berdaya oleh rasa ketagihan peminum kopi. Selain itu, “Dalam segmen pengusaha yang sukses, Euromaxx juga mengupas seorang ibu rumah tangga Jerman bernama Melitta Bentz yang menemukan ide penggunaan filter kertas dalam menyajikan kopi di rumahnya,” ujar Arief yang kini menonton DW-TV Asia+ lewat Indovision. Ide brilian ini memungkinkan menikmati kopi tanpa terganggu ampasnya dengan tidak mengurangi rasa maupun aroma.

Dengan demikian ngopi sekarang menjadi budaya masyarakat dari remaja hingga aki-aki. Meski mereka tidak semuanya minum kopi di warung kopi tetapi di rumah mereka juga tetap minum kopi. Hanya satu tujuan mereka yang marung di warung kopi ingin berkumpul dengan teman, membangun solidaritas, sebagai refreshing, dan bisa mendapat wawasan. Di warung kopi tempat berkumpul segalanya. Dalam diskusipun setiap komunitas, atau lembaga tertentu pasti selalu ada kopi. (Aidi)