Semen Indonesia Kehilangan Rp 2,7 Triliun

oleh -
DOA BERSAMA : Jajaran Komisaris dan Direksi PT Semen Gresik saat Berdoa Bersama agar Perusahaan Semakin Baik

TUBAN – Persaingan bisnis semen semakin ketat, dan harga jual yang turun membuat PT Semen Indonesia kehilangan Rp 2,7 triliun pada 2017 lalu. Selama 2017 perusahaan produsen semen itu hanya mencatat laba Rp 1,8 triliun. Jumlah tersebut jauh di bawah capaian 2016 yang sampai Rp 4,5 trilun. Tahun 2018 ini, PT Semen Indonesia menargetkan laba menjadi Rp 3,03 trilun atau naik 50 persen dibanding tahun 2017.

Direktur Utama (Dirut) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Hendi Priyo Santoso di hadapan para direksi dan karyawan PT Semen Indonesia grup, saat tasyakuran dan doa bersama dalam peringatan ulang tahun ke-5 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, menyatakan, ke depan capaian dan kinerja perusahaan harus lebih baik.

‘’Pada 2017 lalu saja, kompetitor sudah tiga kali lipat jumlahnya. Dibutuhkan kerja keras dan fokus untuk mencapai kinerja yang lebih baik,’’ ujarnya.

Tahun ini, diperkirakan permintaan semen atau penyerapan pasar secara nasional naik 5 persen menjadi 70 juta ton, dibanding sebelumnya. Namun, jumlah produksi semen nasional di atas kebutuhan atau 106 juta ton. Sehingga terjadi kelebihan produksi. Kondisi tersebut, menurut dia, akan terus berlangsung sampai 2025 nanti.

‘’Hal itu menyebabkan harga jual semen turun,’’ tambahnya.

Penurunan harga semen, sangat berpengaruh pada pendapatan. Semen Indonesia juga terkena imbasnya, laba terus turun selama tiga tahun terakhir. Misalnya pada 2015 bisa laba Rp 5 triliun. Jumlah itu turun pada 2016 yang hanya Rp 4,5 trilun. Dan tahun 2017 semakin sedikit karena hanya mencapai Rp 1,8 triliun.

‘’Evaluasi dan introspeksi harus terus dilakukan. Hal yang sukses di masa lalu belum tentu bisa dilakukan di masa depan. Harus mencari terobosan baru dan meningkatkan kiberja,’’ pintanya.

Segala dan upaya harus terus dilakukan agar kinerja yang baik terus bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Saat ini, Semen Indonesia masih menguasai 42,2 persen lebih pasar semen nasional. Namun, dengan hadirnya kompetitor yang semakin banyak, maka dibutuhkan strategi dan kerja keras untuk bisa menghadapi persaingan yang semakin terbuka itu.

Persatuan dan kesatuan sesama perusahaan di bawah Semen Indonesia harus terus diperkuat agar menjadi kekuatan besar yang sanggup memenangi persaingan. ‘’Suatu keprihatinan dengan kondisi saat ini. Namun dengan kerja keras, terus bersatu dan membangun kekuatan bersama, semua rintangan bisa dilewati,’’ tandasnya.(rizqi)