Tabrakan Kapal, Jokowi dan Banjir

oleh -190 views

 

Selama November kemarin, Kabupaten Tuban menjadi sorotan nasional. Semua mata tertuju pada daerah dengan brand Bumi Wali ini. Bahkan, mata dunia pun juga melirik Tuban. Bahkan, hingga saat ini mata masih tertuju pada Tuban saat kabupaten di pesisir utara jawa ini masih berkutat dengan bancana banjir. Juga potensi tanah longsor.

Masyarakat tersentak, ketika tiba-tiba muncul berita terjadi tabrakan kapal di perairan yang masih masuk wilayah Tuban. Meski soal titik tumbuk tabrakannya masih terjadi perbedaan pandangan. Sebab, ada yang menyebut tabrakan itu terjadi di perairan dengan jarak sekitar 17 mil atau sekitar hampir 30 kilometer dari pantai Tuban. Dan, jika benar 17 mil dipastikan itu perairan Tuban. Karena ada yang menyebut tabrakan terjadi di 32 mil dari lepas pantai atau hampir 50 kilometer dari pantai.

Kita kesampingkan titik pastinya, namun akibat tabrakan kapal MV Tay Son 4 yang berbendera Vietnam dengan kapal nelayan Mulya Jati dari Juwana Kabupaten Pati Jawa Tengah itu sungguh luar biasa. Tuban tiba-tiba menjadi buah bibir. Stasiun TV berlomba-lomba menyajikan berita yang teraktual dari peristiwa tersebut. Maka mereka mengirimkan kru khusus untuk meliput peristiwa dan perkembangannya. Berhari-hari reporter dan tenaga dukung lainnya bercokol di Tuban lengkap dengan peralatannya.

Sri Wiyono,S.Ag, anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tuban

BPBD Tuban juga kalangkabut untuk ikut menjadi bagian dari tim SAR yang dikomandani Basarnas. Dari 15 korban dari kapal nelayan yang tenggelam, baru atau hanya ditemukan 4 orang. Artinya di laut lepas itu masih ada 11 jasad korban yang belum ditemukan. Sedangkan 12 nelayan yang lain selamat dan mungkin sudah kembali ke rumah masing-masing. Sebab, saat kapalnya ditabrak kapal besar dengan ukuran panjang sekitar 130 meter dan lebar 20 meter tersebut, kapal nelayan itu diawaki 27 orang. Bangkai kapal hingga kini juga belum ditemukan. Hanya serpihan-serpihan yang bisa diangkat.

Belum habis kehebohan tabrkan kapal yang membuat gaduh dunia transportasi laut itu, Tuban kembali menjadi perhatian ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Tuban. Tepatnya di Desa Tasikharjo dan Sumurgeneng Kecamatan Jenu. Bukan kunjungan biasa. Sebab, kunjungan itu untuk memeringati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) se Indonesia. Maka, undangan dari seluruh penjuru tanah air tumplek blek di lokasi acara.

Di lokasi itu pula ditanam 238 ribu pohon dalam waktu satu jam. Jumlah itu, adalah  menanam yang paling se dunia, sehingga menjadi rekor baru di buku rekor dunia. Sebelumnya rekor dipegang Filipina dengan jumlah tanam 223 ribu pohon. Maka saat itu pula perwakilan dari Guinness Book World of Records tercipta. Luar biasa. Namun belakangan terdengar penanaman itu ada sesuatu yang belum beres.

Euphoria kunjungan belum habis, maka kembali tertuju ke Tuban ketika bencana banjir mulai melanda. Bukan sesuatu yang baru memang, banjir sudah setiap tahun menyapa. Namun, tahun ini semua harus waspada, sebab musim hujan yang baru datang ini diperkirkan panjang masa. Dan, yang lebih mengkhawatirkan adalah siklus lima tahunan banjir. Artinya setiap lima tahun banjir datang tidak seperti biasanya. Banjir datang lebih  besar, dan tentu juga semakin banyak wilayah yang terendam. Jika memang tahun ini, masuk siklus lima tahunan tersebut, maka bersiapkan menyambut kedatangan air bah itu.

Karena itulah perhatian juga tertuju ke wilayah Tuban, juga kabupaten lain yang rawan banjir. Hanya, setidaknya beragam peristiwa yang terjadi selama kurun dua  waktu dua bulan terakhir ini menjadikan nama Tuban banyak diperbincangkan. Semoga perbincangan itu juga untuk hal-hal yang baik. Hal-hal yang membuat warganya terangkat derajat dan ekonominya. Meningkat kesejahteraannya dan semakin religious, maju dan sejahtera seperti harapan pemerintahnya. Wallahu a’lam.(*)