Tempat Bersila Walisongo di Pantai Gadon Tambakboyo Tuban

oleh -226 views
SEPI: Cungkup yang menaungi batu merah petilasan Walisongo (atas) dan suasana dalam cungkup.


Penulis: Thoni Mukharrom (Tulisan Oktober 2012)

Petilasan ini sudah diketahui keberadaannya sejak jaman pendudukan Jepang. Mbah Hambali, sesepuh desa Gadon Kecamatan Tambakboyo yang pertama membukanya—sekitar tahun 50-an. Setelah itu diteruskan oleh Mbah Modin Mahfud, warga Mander bersama Mbah Gampang. Setelah keduanya wafat, petilasan ini diurus oleh Mbah Tardji dan Mbah Wawan, keduanya warga desa Pulogede, Tambakboyo. Sejak ditinggal wafat Mbah Tardji dan Mbah Wawan, sekitar tahun 1990-1995 petilasan ini tidak ada yang mengurus sehingga kembali singit, akibatnya tak ada orang yang berani menyambanginya.
Baru akhir 1995 ada seorang yang begitu peduli dengan peninggalan bersejarah umat Islam itu. Dia adalah Marzuki warga desa Gadon, Tambakboyo. Dia memperjuangkan agar petilasan Walisongo ini kembali dikunjungi dan tidak menyeramkan.
Petilasan ini dulu berbentuk batu merah dengan bekas orang sedang bersila. Sekarang di atasnya sudah dibangun rumah kecil. Dulu ada keluarga dari Jombang yang mengusulkan untuk dibangun rumah kecil. Rumah kecil ini baru berdiri 2010 lalu. Sebab, kalau ada pezirah yang datang, ada saja ulahnya, ada yang mengambil batu merah petilasan dengan sendok.
Menurut juru kunci pertama, petilasan ini adalah bekas Sunan Bonang. Tapi kalau ada orang yang datang, tempat ini berbeda-beda ceritanya. Dulu pernah ada peziarah bernama Kyai Muksin dari Malang.  “Mbah Yai kok sumerap, lah Malang mriki kan tebih?” tanya Marzuki.
“O, nggeh, kulo winginane dalu diimpeni Sunan Kalijogo, terose teng mriki enten petilasan,”jawab Pak Kyai Muksin.
Kebenaran tentang apakah itu petilasan Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan. Sebab dari penuturan juru kunci dan pezirah yang datang berbeda versi. Dulu saat pertama kali ditemukan oleh kakeknya Marzuki, diyakini sebagai petilasan Sunan Bonang. Setelah banyaknya pengakuan pezirah yang mengatakan petilasan Sunan Kalijaga, petilasan ini dinamakan petilasan Walisongo.
Pada 1987 ada seorang warga bernama Hambali menyuruh membangun mushola di petilasan ini. Saat itu Marzuki belum berani mengiyakan karena memang belum mempunyai kewenangan. Setelah para sesepuh meninggal dunia, baru beberapa tahun lalu, tepatnya 2010 mushola ini selesai dibangun. Dia berani melaksanakan niat tersebut. Kebetulan ada ustad dari Pemalang yang menikah dapat orang Gadon, ustad tersebut setuju dengan pembangunan mushola di komplek petilasan ini. Sedangkan biaya pembangunan mushola didapat dari swadaya masyarakat
“Kalau ada yang mengasih sumbangan ya saya belikan material. Saya sendiri  malu meminta,” ungkapnya.
 Niat Marzuki membangun mushola ini agar bisa dibuat beribadah. Bukan malah dibuat membakar menyan dan perbuatan menyimpang dari ajaran Islam.
 “Saya juga selalu mengingatkan agar para peziarah tidak meminta kepada selain Allah. Di sini cuma menghormati saja,” tandas Marzuki.
Soal peristiwa aneh aneh yang pernah terjadi, Marzuki menuturkan, dulu pernah ada kejadian pencurian selambu petilasan oleh empat anak kecil dan dibuat celana pendek. Setelah dipakai, ada yang lehernya menoleh dan tidak bisa kembali, yang satu pinggangnya melintir. Dan yang satunya dengkulnya bengkak. ‘’Pokoknya empat orang itu dapat penyakit semua. Dan sembuh setelah meminta maaf kepada Allah di tempat ini,” cerita Marzuki.
“Ada juga yang pernah mau menggusur tempat ini. Oleh masyarakat yang tidak suka. Karena dianggap menyekutukan Allah. Orang itu akan menggusurnya, malam harinya ia melihat ada ular besar dan akan menggigitnya. Akhirnya niat itu tidak jadi dilaksanakan,” imbuh Marzuki.
Terlepas dari peristiwa tersebut, Marzuki berharap hendaknya kita turut serta menhormati dan menjaga  sejarah berkembangnya Islam di tanah Jawa.
Ditambahkan, setiap malam Kamis Legi ada kegiatan ngaji manaqib yang dipimpin oleh kiai setempat. Ada sekitar 20 orang yang datang setiap bulannya. Setiap malam jumat ada kegiatan tahlilan. Pengunjung petilasan ini per hari rata-rata hanya empat orang.

Selain itu setiap malam Kamis Kliwon ada banyak peziarah dari desa Tanjang. Tapi datangnya hanya sebelum panen dan sesudah panen. Mereka juga melakukan manaqib. Kegiatan tersebut masih berlangsung hingga sekarang.(thoni)

Petilasan Walisongo yang berada di pinggir pantai Gadon Tambakboyo Tuban.