Ternyata Begini Sejarah Hari Santri

oleh -250 views
PUNYA PERAN PENTING : Kaum Santri Punya Peran Penting dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

*upacara di Tuban diikuti 3.000 santri

SENORI – Sekitar 3.000 santri berkumpul di lapangan Kecamatan Senori, Tuban Minggu (22/10). Mereka bersemangat untuk mengikuti upacara Hari Santri Nasional (HSN). Sarung dan songkok sebagai seragam khas santri menjadi busana mereka. Upacara yang dipimpin Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussein itu berjalan khidmat.

Kapolres Tuban AKBP Sutrisno, Dandim 0811 Letkol Inf Sarwo Supriyo hadir langsung, bersama sejumlah pejabat lainnya. Pagi itu, lapangan kecamatan Senori berubah menjadi lautan santri. Bukan hanya upacara, karena para pesilat dari perguruan Pagar Nusa juga untuk kebolehan. Mulai dari kekebalan sampai tenaga dalam.

Dalam sambutannya, Wabup membacakan sambutan tertulis Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqiel Siradj. Pengakuanterhadap kiprah ulama dan santri in memang tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelamadi Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja. Berikut isinya :

..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djaraklingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).

Tanpa Resolusi Jihad NU dan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan tersebut, kata dia,  tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiprah santri menurut Wabup juga teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Darus Salam. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkanPancasila.

Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Lalu, tahun 1953, kaum santri member gelarPresiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai  WaliyyulAmri ad-Dlaruribis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Dilanjutkan tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideology komunisme. Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai consensus nasional (mu’ahadahwathaniyyah).

Selepas reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945, bahwa NKRI adalah negara bangsa bukan negara agama, bukan negara suku yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.

‘’ Semua pihak harus selalu ingat akan semua yang dilakukan oleh kaum santri tersebut. Termasuk kaum santri sendiri, harus tahu tentang peran pendahulunya yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI,’’ katanya.

Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat, toleran proporsional, lurus, dan wajar, NKRI belum tentu eksis sampai sekarang. Negeri-negeri muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah atau kebangsaan.

Karena itu, Hari Santri hari ini menurut Wabup perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “nasionalisme bagiandari iman” perlu terus digelorakan di tengah arus ideology fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air. Karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan.

Hari Santri kata Wabaup, juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialism dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu.

‘’Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatulhaq.

Saat ini santri juga hidup di tengahd unia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya,’’ terang dia.

Internnet, lanjutnya, punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam. Tetapi juga bia digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta ,keluarga, dan martabat seseorang.

“Kaidah fikihnya, al-muhafadhahala-l qadimisshalihwa-l akhdzu bi-l jadidi-l ashlahatau mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang terbukti lebih baik ,senantiasasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,’’ tandasnya.(rizqi)