TOKOH INSPIRATIF NUsa 04//Lebih Dekat dengan Nyai Hj. Hanifah Muzadi

oleh -176 views
SEKALI NU, TETAP NU: Hj. Hanifah saat wawancara di rumahnya.

Didorong K. Murtadji jadi DPR GR

Ketika kami datang, kesan yang pertama yang terekam adalah persiapan yang begitu rapi telah disiapkan oleh tuan rumah. Kami yang datang agak telat, harus memutar otak untuk menyampaikan asalan yang masuk akal mengapa kami telat. Sebab, kami tahu kalau perempuan yang ada di hadapan kami adalah sosok yang disiplin dan tepat waktu.
Wanita itu adalah Nyai Hj. Hanifah Muzadi. Dia terlahir pada 19 April 1941, tahun-tahun menuju proklamasi kemerdekaan RI. Bapaknya bernama Muzadi, seorang pedagang tembakau yang diambil menantu seorang kiai dari Jawa Tengah dan ibunya bernama Rumyati. Terlahir sebagai anak ke-7 dari 8 bersaudara, dia muncul sebagai sosok yang sangat disegani di PC Muslimat Tuban.
Setelah kami duduk di kursi-kursi yang ada, 3 orang laki-laki masuk, menyapa dan ikut duduk bersama kami. Ternyata mereka adalah para anggota Ansor yang telah diundangnya untuk menemani kami ketika nantinya telah masuk waktu berbuka. Maklum, waktu itu masih bulan Ramadlan. Selain itu, di rumah itu juga terlihat sepi laki-laki.
Sembari menunggu waktu buka tiba, Nyai Hanifah menuturkan kiprahnya di organisasi Muslimat. Diceritakan, sebelum aktif di Muslimat, dia pernah menjadi pengurus IPPNU. Bahkan dia termasuk tokoh pendiri PC IPPNU Tuban, sekitar 1957. Dia aktif di IPPNU sampai 1959. Posisinya saat itu adalah sekretaris II. Kegiatan yang masih bisa dia ingat saat itu adalah menerbitkan buletin kecil bernama Dompet Suka. Sayang program itu tidak berjalan lama.
Pada 1959-April 1962, dia dikirim untuk mondok di pondok Nahdlotul Muslimat Solo. Sambil mondok, dia tetap aktif di IPPNU. Di sana pun dia dipercaya menjadi Sekretaris PC IPPNU Solo.
Pada 1962-1964 dia melanjutkan petualangan belajarnya di IAIN Malang (sekarang UIN Malang). Awal masuk di sana, dia mengambil jurusan Pendidikan Agama. Namun, karena ingin eksplorasi kemampuan, dia melakukan pindah jurusan ke jurusan Bahasa Inggris. Tidak nyaman dengan Bahasa Inggris, dia kembali lagi masuk dalam jurusan Pendidikan Agama.
Kemudian, pada 1964-1965 dia dipercaya mengajar di SMP Pancasila Jatibarang-Brebes-Jawa Tengah. Meskipun masih aktif mengajar di SMP Pancasila, dia terpilih menjadi salah satu anggota DPR Gotong Royong Kabupaten Tuban pada 1965. Tepat pada 05 Mei 1965 dia dilantik. Hal ini mengakibatkan dia harus pergi bolak-balik dari Tuban ke Jateng. Masa jabatannya menjadi anggota dewan adalah sampai 1971. Orang yang mendorong Hj. Hanifah Muzadi saat itu untuk menjadi anggota dewan adalah Mbah K. Murtaji dan K. Nur Salim. ‘’Saat itu, saya menjadi anggota dewan termuda dan hanya satu-satunya DPR GR perempuan,” ungkapnya.
Pada 1965 dia telah dewasa. Saat itu dia masuk menjadi anggota Muslimat. Saat awal dia berkecimpung di sana, dia melihat terjadi dua kepemimpinan cabang NU di Tuban, termasuk Muslimat. Satu cabang terletak di Tuban Kota dan yang lainnya terletak di Tuban Selatan, meliputi Kenduruan, Jatirogo, Bangilan, Senori, Singgahan dan Parengan. Namun, anehnya saat itu kegiatan organisasi malah lebih aktif di Tuban Selatan. Dua kepemimpinan ini berlangsung sampai terjadi konsolidasi pada 1977 di kantor NU.
“Di kantor NU yang kini jadi TK Aisiyah di Jl. Pemuda,” kata Nyai Hj. Hanifah. Ketua PC Muslimat NU saat itu adalah Siti Muzaiyanah. Konsolidasi itu menghasilkan keputusan bersatunya dua kepemimpinan itu, tapi persatuan itu masih terasa semu karena Muslimat Selatan sulit untuk bersatu dengan Muslimat Tuban Kota. “Lama banget untuk bisa bersatu,” ungkap Nyai Hj. Hanifah. Bahkan setelah terjadi konsolidasi itu, yaitu pada 1987 atau setelah dia memimpin PC Muslimat Tuban, dia bersama Ikatan Haji Muslimat (IHM) koordinat Selatan mendirikan gedung IHM sebagai pusat kegiatan Muslimat Selatan yang lokasinya di Bakalan Laju. Tanah yang dibanguni adalah tanah waqaf Kiai Zawawi (Lajukidul). Sampai sekarang pun gedung itu masih dipakai untuk kegiatan Muslimat Selatan.
 Pada 1984 dia dipercaya memimpin PC Muslimat Tuban. Dia memimpin dari 1984-2010. Selama itu dia mengabdi untuk Muslimat. Meskipun yang tertulis dia memimpin 3 periode kepemimpinan, tapi realitanya dia memimpin lebih dari 3 periode. “Berkali-kali saya memimpin. Dulu awalnya 2 sampai tiga tahunan. Itu hanya untuk biar rapi saja, dikatakan 3 periode,” jelasnya. Selama itu dia berjuang tanpa pamrih, tapi malah memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk Muslimat.
Setidaknya ada 3 bidang yang menjadi konsentrasi kepemimpinannya selama 3 periode itu. Awal memimpin, dia mencoba membenahi bidang da’wah. “Ya mungkin karena saya dulu terkenalnya di sebagai mubalighoh, jadi program saya yang utama ya da’wah,” ungkapnya. Setelah itu merambah ke bidang pendidikan. Setelah RA pada 1986 beralih dari Ma’arif ke Muslimat, maka pendidikan menjadi konsentrasinya.

Bidang politik juga menjadi perhatiannya. Dia mengatakan bahwa dia selalu mengarahkan agar Muslimat memilih pemimpin yang NU. “Pokoknya harus NU, NU, dan NU,” katanya. Di bidang sosial, Muslimat secara rutin memberikan santunan anak yatim. Pengadaan sarana yang sangat monumental pada masa kepemimpinannya adalah berdirinya gedung PC Muslimat NU Tuban yang menghabiskan dana sebesar 1,2 miliar. Namun, dari berbagai bidang yang menjadi garapannya saat memimpin, hanya bidang ekonomi yang tidak terlalu mendapat perhatian lebih. Koperasi yang dimiliki Muslimat tidak bisa berkembang pesat karena dia tidak berkeinginan mengembangkan uang yang diperanakkan. (wakhid)