TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 02//NUR AFIFAH

oleh -102 views
IN MEMORIAL: Nur Afifah (Almarhumah) bersama putrinya.


Di tengah kebahagiaan yang dirasakan oleh ribuan anggota Fatayat dan Muslimat NU pada acara Harlah PC Muslimat NU Tuban, (Selasa, 05/06/2012) di GOR Tuban, ternyata menyisakan kesedihan yang mendalam bagi anggota PAC Fatayat Singgahan Tuban, khususnya, dan seluruh anggota PC Fatayat dan Muslimat Tuban, pada umumnya. Hal ini dikarenakan PAC Fatayat Singgahan harus ikhlas melepaskan salah satu kader terbaiknya yang meninggal dunia akibat kecelakaan sepulang mengikuti acara harlah akbar itu.
Dia adalah Nur Arofah. Warga desa Lajokidul-Singgahan-Tuban RT II/RW I. Dia adalah sekretaris PAC Fatayat Singgahan yang sangat gigih dan aktif untuk memperjuangkan organisasi.
Ketua PAC Fatayat Singgahan Istianah mengungkapkan bahwa dia adalah seorang organisastoris tulen. Mulai belia dia sudah aktif di IPPNU. Bahkan riwayat organisasinya di IPPNU sudah mencapai pengurus PC IPPNU Tuban. Setelah menikah, dia naik pada jenjang organisasi banom NU yang ada di atasnya, yakni Fatayat. Di Fatayat pun dia memulainya dari level yang paling bawah, ranting Lajokidul. Setelah berjuang di tingkat ranting, dia naik menjadi pengurus PAC Fatayat Singgahan.
“Dia di PAC Fatayat Singgahan itu 4 kali menjadi sekretaris. 2 kali sebelum saya menjabat ketua dan dua kali setelah saya menjabat ketua,” ungkap Istianah.
Lebih lanjut Istianah menceritakan Nur Arofah sosok organisastoris yang mumpuni. Dia seorang orator. Cara bicaranya enak dan diplomatis, sehingga disukai banyak anggota Fatayat. Dia juga sangat aktif. Dalam setiap kegiatan PAC Fatayat Singgahan, dia sangat jarang tidak datang.
“Dia tidak datang itu kalau pas kepepet dengan jam kerjanya di kantor agen pupuk milik H. Muawanah. Tapi, kalau program kita sangat penting, dia pasti lebh memilih datang untuk membahas program bersama di kantor Fatayat,” tandas Istianah.
Satu hal lagi yang dikagumi Istianah pada diri Nur Arofah adalah dia ibu rumah tangga yang mampu me-manage waktunya untuk keluarga, pekerjaan dan organisasi dengan baik.
Kegiatan terakhir pra-harlah PC Muslimat yang diikutinya adalah seminar tentang “KDRT” yang diadakan oleh PC Muslimat NU Tuban. Dia ditunjuk Istianah untuk mewakili kecamatan Singgahan.
Istianah mengatakan, dia dan seluruh pengurus PC Fatayat Singgahan merasa sangat kehilangan dengan meninggalnya Nur Arofah. “Ini saja program olah raga bersama yang biasa kita lakukan saya liburkan dulu karena situasinya lagi duka,” ungkap Istianah.
Sokong Perekonomian Ortu
Kegigihan Nur Afifah tidak saja dirasakan oleh teman sejawatnya di PC Fatayat Singgahan, tapi juga dirasakan seluruh keluarganya. Titik Sumartini, ibunya, menceritakan dia adalah sosok yang luar biasa di keluarga. Dia sangat perhatian pada orang tuanya. Sejak umur 10 tahun dia sudah tidak malu dengan teman-temannya untuk membantu belanja keperluan jualan es ke pasar.
Karena kepintaran dari Nur Afifah, setelah lulus aliyah, dia diminta mengajar di MI dan TPQ Lajokidul. Setelah beberapa tahun mengajar, dia diminta Hj. Muawanah untuk bekerja di kantor agen pupuk miliknya. “Sebagai wartawan, suaminya tidak secara rutin memberi Afifah uang belanja, sehingga dia menerima tawaran bu Hj. Muawanah untuk bekerja di kantornya dengan gaji Rp. 800.000,- per bulan,” terang Sumartini untuk menjelaskan Nur Afifah adalah penyokong ekonomi keluarga.
Sejak bekerja di kantor agen pupuk itulah sokongan keuangan Afifah untuk biaya hidup ibunya semakin nampak. “Dulu saya masih cari orang ambil air untuk keperluan mandi dan yang lainnya, tapi suatu hari saya kaget sudah terpasang pipa paralon yang terhubung dengan sanyo milik Afifah. Setelah saya Tanya orang rumah ‘siapa yang masang paralon?’. Kemudian dijawab ‘Siapa lagi kalau bukan anakmu’,” cerita ibu yang nampak masih sedih ditinggal Afifah itu.
Tidak cukup hanya membantu men-supply air saja, biaya listrik rumah orang tuanya pun dia yang membayar tiap bulannya. Tidak jarang dia juga memberi uang belanja pada ibunya. Bahkan biaya arisan ibunya pun Afifah yang sering membayari. “Malah kalau waktunya bulan puasa, dia yang membayari arisan saya sepenuhnya, karena tahu saya tidak buka warung selama bulan Romadlan. Dia juga yang membelikan baju hari raya pada saya,” jelas Sumartini.
Oleh karena itu, saat mendengar kabar Nur Afifah meninggal, dia sangat shock. “Siapa kini yang akan membantu saya untuk membayar biaya listrik, biaya hidup setiap hari dan yang lainnya kalau kondisi saya seperti ini?” kata ibu beranak lima itu dengan raut muka sedih.
Sama halnya dengan ibunya, Wiji Saimuri, bapaknya juga menceritakan kepandaian Afifah. Mulai SD sampai MTs, kepandaian Nur Afifah belum nampak sepenuhnya. Baru setelah dia masuk bangku aliyah, dia selalu mendapat peringkat di kelas dan beasiswa dari sekolah. “Kalau waktunya pelajaran Bahasa Arab, Afifah bukan diajari gurunya. Tapi gurunya yang malah diajari Afifah,” dia bercerita. Sayang Afifah muda tidak bisa berkuliah karena faktor keuangan keluarga.
Tidak hanya itu, dia juga bercerita tentang kebaikan hati Afifah. “Dia itu anak yang muda tapi pikirannya sudah sangat dewasa. Dia bisa menjadi pemberi jalan keluar bagi keluhan-keluhan orang yang masuk padanya. Dia juga bisa berdiri di tengah pada perselisihan yang sedang dihadapi orang,” jelasnya.
Pada penjelasan sebelumnya pun Sumartini mengatakan bahwa Afifah melarangnya mengeluh padanya saat ada suaminya, agar tidak memunculkan perasaan-perasaan yang tidak diinginkan pada diri suaminya. Afifah hanya akan mengatakan sesuatu seperlunya.
Nur Afifah meninggalkan 5 anak, 3 putra dan 2 putri, yang pandai-pandai. Anak pertamanya bernama Bagus Farid Alfian Isfa Anuraga. Dia masih duduk di bangku MA Lajokidul. Anaknya yang kedua bernama Yafi Alfian Isfa Anuraga. Dia tahun ini lulus MTs Lajokidul dan ingin masuk ke SMK N 1 Tuban. Hasil ujiannya di MTs Lajokidul tahun ini memasukkannya pada rangking III. Anak ketiganya bernama Ika Trina Maulidia Riska Fahmia. Tahun ini dia naik kelas VI di MI Lajokidul. Dia berhasil mendapatkan rangking II pada ujian kenaikan kelas kemarin. Anaknya yang keempat bernama Irdina Fitra Nailya Rusyda. Dia kini naik kelas III MI Lajokidul. Hasil ujiannya pun membanggakan. Dia mampu meraih rangking I dalam ujian kenaikan kelas kemarin. Dan anaknya yang terakhir bernama M. Nabil Fahri Pamungkas. Dia baru bisa berjalan.
Bagus Farid Alfian Isfa Anuraga mengatakan bahwa ibunya adalah sosok yang tidak tergantikan. “Ibu itu sempurna buat saya,” ungkapnya.

Semua keluarga merasa sangat kehilangan. “Kita semua merasa sangat kehilangan,” ungkap Yafi Alfian, anak Afifah yang kedua. (wakhid)