TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 41/Mengenal Sosok H. Achmad Rohmad, S.H

oleh -120 views
Gigih Perjuangkan NU Sejak Era Orde Baru
 “Ojo wani kiai, ojo wani NU. Ojo elek-elek kiai, ojo elek-elek NU.” Pesan Kiai Murtadji tersebut menjadi pegangan hidup bagi tokoh NU yang satu ini. Bahkan karena pesan itulah, dia menjadi setia berjuang di NU sejak era orde baru hingga saat ini.
Minggu siang sekitar pukul 11.45 WIB (13/09/2015), wartawan NUsa menuju salah satu rumah tokoh senior NU di wilayah Rengel, tepatnya di Desa Campurrejo. Meskipun jarak rumah cukup jauh dari pusat kota Tuban, tidak menjadi halangan baginya untuk tetap berkiprah di NU Tuban. Jarak puluhan kilometer tak mampu mematikan semangat juangnya. Di usia yang bisa dibilang sepuh, ia tetap setia berjuang membesarkan Nahdlotul Ulama’.
Dialah H. Achmad Rohmad, S.H atau yang lebih sering dipanggil Pak Rahmad. Ia lahir dua tahun sebelum kemerdekaan, saat Jepang masih menguasai Indonesia, tepatnya pada 7 Juli 1943. Ia merupakan putra ke-7 dari 10 bersaudara. Rahmad kecil terlahir dalam keluarga yang kental dengan budaya ke-NU-an. Orang tuanya adalah aktivis NU yang aktif, bahkan sang ayah merupakan pengurus pertama NU ranting Campurrejo sekitar tahun 1955.
Pada tahun 1971, Rahmad muda menikahi perempuan asal desa Beji, kecamatan Jenu yang bernama Siti Ma’rifah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai 6 orang anak yaitu: 1)M. Tajuddin As-Subhi, 2)M. Mukafi, 3)Siti Ulfatur Rohmah, 4)A. Mufaizin, 5)Siti Farida Nur Ainiyah, 6)Ahmad Hisbullah Huda. Anak-anaknya sudah banyak yang berkeluarga dan tidak tinggal serumah dengan Pak Rahmad dan istri. Hanya anak terakhir yang tinggal serumah, namun si bungsu pun masih kuliah di Gresik, sehingga tiap harinya Pak Rahmad hanya tinggal berdua dengan sang istri.
Meski sudah sepuh, Pak Rahmad aktif mengikuti pengajian dan pertemuan rutin NU, di antaranya adalah kajian rutin sabtu pagi di Pendopo Manunggal Kridho Tuban, kajian Ahad pagi  “Lentera Hati” di masjid Al-Futuhiyah, serta Lailatul ijtima’ rutin di tiap ranting di kecamatan Rengel. Ditanya kesibukan, ia mengatakan bahwa ia sibuk sebagai petani dan peternak. “Kesibukanku yo macul sama ngurusi sapi ini, kotorannya dibuat kompos biar mengurangi pupuk dan juga pernah coba buat biogas tetapi tetangga nggak mau pakai, takut bau kotoran sapi,” ungkap kakek dari 10 cucu ini sambil tertawa.  Pak Rahmad memang orang yang menyukai kerja. Selain menjadi wakil ketua PCNU Tuban, ia juga menjadi wakil ketua MUI Rengel, ketua BAZ kecamatan Rengel, serta mendirikan KBIH Jam’iyatul Hujjat NU sejak 1994. “Saya ini punya kerjaan sampingan ngojek, ngantarkan ibuk ke kecamatan-kecamatan kalau ada acara Muslimat,” ungkap suami dari ketua Muslimat Rengel itu. “Kemarin ada acara di Bancar, di Parengan, saya antar sendiri,” tambahnya.
Haji Rahmad merupakan orang yang mencintai pendidikan. Saat kelas 1-3 SD, Rahmad kecil mengenyam pendidikan di SD Banjararum, sedangkan kelas 4-6 dilanjutkan di SD Prambonwetan. Di sore hari sepulang sekolah, ia melanjutkan belajar agama lebih dalam di Diniyah. Saat SMP, ia mondok di ponpes Matholi’ul Falah Kajen, Jawa Tengah. Dan setelah lulus SMP melanjutkan di PGA Bojonegoro. Tak berhenti di situ, ia juga pernah kuliah jurusan pendidikan di IKIP ISE Bojonegoro, sempat mengambil D3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, serta mengambil S1 Hukum di Universitas Darul Ulum Jombang. Pada Oktober tahun 1965, Pak Rahmad diangkat menjadi PNS. Ia menjadi guru agama di banyak sekolah dasar, seperti di MI Prambonwetan, SDN Rengel, SDN 1 Ngerong, SDN Punggul, dan mengajar di MI nya sendiri, yaitu yayasan Al-Islahiyah yang berdiri sejak 1963. Ia pensiun PNS pada tahun 2003.
Pengabdiannya di NU sudah dilakukan sejak masa orde baru, sekitar tahun 1971, yang saat itu NU belum berkembang seperti sekarang. Bahkan pemerintah saat itu tidak mendukung gerakan NU. Karena cintanya pada NU, ia pernah dipecat dari jabatan ketua KPPS. “Saat pertemuan pembinaan KPPS, saya dipanggil pembantu Bupati. Saya masih ingat dengan orangnya. Lalu saya dipecat di hadapan orang banyak. Dia bilang petugas KPPS harus selektif,” kisahnya. Saat ada monoloyalitas tunggal pada satu partai yang berkuasa jaman itu, sebagai PNS otomatis Pak Rahmad juga harus mengikuti, namun jiwanya tetap pada NU. “Saya abot di NU. Saat itu saya langsung sowan ke Mbah Yai Murtadji. Dan pesan beliau masih saya pegang sampai sekarang,” ungkapnya. “Ojo wani kiai, ojo wani NU. Ojo elek-elek kiai, ojo elek-elek NU,” kata Pak Rahmad menirukan pesan Kiai Murtadji.
Kiprahnya di NU berawal dari menjadi wakil ketua MWC NU kecamatan Rengel, lalu menjadi pengganti ketua MWC yang diangkat menjadi ketua partai. Pada tahun 1998 hingga 2013, selama 15 tahun, Pak Rahmad menjabat sebagai Ketua MWC NU kecamatan Rengel. Dan kini adalah periode kedua ia menjabat sebagai wakil ketua PC NU kabupaten Tuban. Loyalitasnya pada NU sudah tidak diragukan lagi. Di usia 72 tahun ini, meski jarak Rengel-Tuban cukup jauh, Pak Rahmad aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di Tuban. “Pernah dulu saat hujan, ada rapat di Tuban malam hari, ya saya berangkat pakai mantel ke Tuban sendirian,” kenangnya. Faktor jarak dan usia tidak menjadi masalah baginya untuk tetap berjuang bersama NU demi menunjukkan wajah Islam yang ramah, Islam rahmatan lil alamin.
Pengalamannya yang paling diingat adalah saat pembangunan gedung PCNU Tuban. Beliau termasuk kader yang aktif mencari dana ke banyak pihak untuk pembangunan gedung NU tersebut. “Dulu kalau rapat itu malam hari setelah isya’, dan selesainya sampai tengah malam. Pulang naik sepeda onthel, sampai rumah jam 2 hingga jam 3 pagi, yo dilakoni. Rapat ya nggak ada makannya, paling kopi sama gorengan itu,” kisahnya. “Guyub jaman dahulu daripada sekarang,” tambahnya.

Baginya, kunci untuk tetap sehat dan semangat adalah dengan mengendalikan pikiran agar tetap bahagia dan rajin berolah raga. “Kuncinya seneng. Jangan sampai susah. Kalau ada masalah jangan dipikir terus. Kalau orang ngguyu, itu kan stress bisa hilang,” ungkap bapak yang hobi baca koran itu. “Kalau dulu saya suka olah raga sepak bola, voli, badminton. Saya pernah jadi juara badminton kecamatan. Tapi sekarang ya sering gak kena kalau mukul kock. Ya ganti olah raganya sama macul, jalan-jalan muter dari rumah ke sawah. Pagi hari itu mungkin ada sekitar 2 kilo saya jalan kaki,” jelasnya sambil tertawa. Mendengarkan cerita Pak Rahmad sangat menyenangkan, karena ia sering menyisipkan humor di sela ceritanya. (ria)

Rahmad: Yang Muda Harus Belajar Aswaja
Prinsip hidup Pak Rahmad adalah hidup ini untuk ibadah dan kerja. Ibadah untuk urusan akhirat, kerja untuk kebutuhan, agar seimbang. Dan selalu menjaga kesehatan agar tetap bisa bermanfaat untuk agama dan masyarakat. “Selama kita sehat, kita bisa ikut berjuang ngurusi agama,” katanya.  Pesannya bagi warga NU, khususnya yang muda adalah agar memperbanyak belajar tentang Aswaja. “Yang muda-muda itu harus benar-benar belajar Aswaja, biar tahu bedanya NU dengan yang lainnya. Anshor, IPNU-IPPNU itu harus aktif mengumpulkan remaja kalau libur sekolah, datangkan kiai untuk mengajari Aswaja,” katanya.
“Sekarang enak mau acara apa saja NU diijinkan, kalau dulu mau tahlilan saja harus ijin dahulu, mau ngumpulin orang disuruh ijin. Bahkan dulu orang masang gambar NU di rumah sendiri saja tidak berani. Lha beda jauh dengan sekarang, NU bisa berkembang, pertemuan pakai seragam NU, bahkan kondangan pun seragamnya NU. Apalagi sekarang orang-orang NU sudah banyak yang berani jadi pemimpin,” pungkasnya. (Ria)