WARTAWAN PUTRI TABLOID NUsa

oleh
WARTAWAN TABLOID NUsa

Mariyatul Qibtiyah

Waktu sahur 4 Ramadhan 1412 H, tepatnya 8 Maret 1992 versi kalender masehi, aku pertama kali menyapa dunia. Terlahir dari pasangan bernama Tasri’ah dan Salim, setelah hampir 15 tahun pernikahan mereka menunggu kehadiranku. Desa Kapu, RT 3 RW 1 kecamatan Merakurak, sebuah desa kecil di wilayah barat Tuban kota, adalah  tempat tinggalku. Sebagai anak tunggal, aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Hal itu membuatku menjadi anak yang agak manja.
Tahun 1996, saat umurku 4 tahun, aku belajar di RA Muslimat NU Salafiyah Mandirejo. Dua tahun kemudian, aku melanjutkan sekolah di MI Salafiyah Mandirejo. Ibuku sangat peduli dengan nilai sekolahku. Hampir setiap hari setelah aku pulang sekolah, ia bertanya bagaimana sekolahku, berapa nilai yang kudapat hari itu. Hal itu membuatku berusaha untuk mendapatkan nilai yang terbaik, tujuannya satu, agar ibuku senang. Saat aku mendapat rangking satu, bapak dan ibuku pasti memberiku hadiah. Kami pergi bersama ke kota Tuban, menuju Bravo, salah satu pusat perbelanjaan yang kala itu menurutku sangat megah, membeli hadiah yang kuinginkan. Saat kelas 5 MI, aku diikutkan lomba sinopsis hingga tingkat kabupaten, mulai saat itu aku banyak membaca buku-buku cerita, dan kebiasaan itu terbawa sampai aku dewasa. Ya, hobiku membaca novel, kalau sudah suka dengan ceritanya, novel setebal laskar pelangi karya Andrea Hirata bisa selesai dalam 5 jam.
Sebenarnya setelah MI, tak pernah terfikirkan olehku untuk masuk SMP, keinginan awalku adalah masuk ke MTs, tapi karena danemku lumayan, aku bisa diterima di SMPN 3 Tuban, salah satu SMP favorit di kabupatenku. Di sana aku belajar banyak tentang organisasi, aku ikut OSIS, dan selama dua periode menjadi ketua divisi keagamaan. Salah satu tugasku adalah menarik infaq dari seluruh siswa SMPN3, selain itu juga menimbang beras zakat. Meskipun bapak ibuku pedagang, aku kurang ahli dalam urusan timbang-menimbang beras, jadi aku harus belajar dulu pada mereka. Selain OSIS, aku juga ikut grup samroh Syarifatun Nada di SMPN3, aku sebagai vokalis. Meski suaraku seringkali menghilang karena radang tenggorokan, aku pernah menjadi juara 1 samroh tingkat kabupaten bersama Syarifatun Nada. Dan di SMPN 3 pula aku mulai belajar menulis berita. Aku mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik, sebuah ekskul yang melahirkan majalah sekolah bernama Pijar. Saat kelas dua aku berkesempatan menjabat sebagai pimpinan redaksi Pijar. Saat itu, cita-citaku sempat berubah haluan, yang awalnya ingin menjadi guru, aku ingin menjadi wartawan. Dalam pikiranku, sepertinya keren menjadi wartawan, apalagi wartawan di medan perang, saat itu kalau tidak salah sedang bergejolak perang di timur tengah. Namun Bapakku tidak setuju denganku, anak tunggal perempuannya tidak mungkin diijinkan menjadi wartawan perang, sementara kemana mana saja masih diantar jemput olehnya. 
Saat SMA, aku sekolah di SMAN 1 Tuban, sekolah paling ngehits yang ada di Tuban. Aku mulai meninggalkan dunia jurnalistik dan beralih ke karya ilmiah. Bersama teman-temanku, aku pernah menjadi juara 2 lomba karya tulis tingkat nasional yang diadakan Magistra Utama Malang. Namun kecintaanku pada novel masih terus mekar, setiap aku pergi ke luar kota Tuban, kalau ada bazaar buku aku pasti membeli novel, menggunakan uang jajan yang diberi ibu tentunya. Misalnya saja saat lomba karya tulis di Malang, saat pembinaan OSN Kimia di Salatiga, juga saat ikut paman munas organisasi yang dilaksanakan di Solo. Dari hobiku membaca novel itu, aku pernah menjadi juara 1 lomba sinopsis novel karya Andrea Hirata tingkat kabupaten yang diadakan perpustakaan Tuban. Di SMA ini, aku masih bergelut di dunia tarik suara, khususnya samroh. Seperti halnya saat SMP, aku mengikuti Porseni mewakili Tuban untuk lomba samroh di Surabaya. Bersama teman rumah, aku tergabung dalam grup rebana Ar-Roudhoh, dan dengan teman sekolah membentuk grup band Qireyna, kumpulan cewek pecinta musik yang belajar nge-band.
Tahun 2009, aku bergabung dengan IPPNU, ikatan pelajar putri nahdlotul ‘ulama. Keluargaku memang berlatar belakang NU, bapak adalah wakil ro’is syuriah di desaku sedangkan ibuku pernah menjadi bendahara Fatayat di pimpinan anak cabang Merakurak. Aku tumbuh dan dibesarkan dalam ajaran islam yang ramah, islam toleran, islam yang santun dan penuh kasih sayang pada semua orang. Yang saat ini sedang banyak dibicarakan dengan sebutan islam nusantara.
Setelah SMA, aku lanjut kuliah di fakultas kesehatan masyarakat Universitas Airlangga Surabaya. Adalah hal yang membahagiakan karena aku bisa masuk di universitas terkenal itu dan mendapat beasiswa. Meski pindah ke Surabaya, aku masih mengikuti IPPNU, namun di Unair aku juga bergabung dengan PMII. Di Surabaya aku lebih banyak aktif di organisasi. Aku bergabung dengan Mapanza, mahasiswa peduli HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkoba. Di situ aku belajar mengerti kehidupan orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Mungkin jika tidak ikut Mapanza, aku masih tidak berani untuk berdekatan dengan ODHA hingga saat ini. Tapi di Mapanza, kami bisa belajar, bermain, dan mengadakan kegiatan bersama-sama.